Gua merupakan indikator yang penting dalam penelitian karst karena
gua dapat menunjukkan tingkat karstifikasi. Gua-gua yang masih aktif
aliran sungai bawah tanahnya memiliki potensi dan peran dalam hidrologi
kawasan yang sangat penting. Gua juga merupakan hunian berbagai biota
yang memiliki fungsi lingkungan yang sangat penting, misalnya kelelawar.
Berbagai jenis kelelawar memiliki peran sebagai predator hama serangga
dan tikus, penyerbuk, dan penyebar biji-bijian. Potensi gua lainnya
adalah untuk wisata, baik wisata umum maupun wisata minat khusus.
Kawasan Karst Karangbolong/Gombong merupakan kawasan yang tersusun
dari Formasi Kalipucang yang berumur Miosen (11 – 25 juta tahun yang
lalu). Yang tersusun oleh batugamping terumbu, batugamping klastik,
batulempung, serpih dan batupasir. Gejala karstifikasi ini meliputi
kenampakan morfologi berupa bukit-bukit, lembah-lembah tertutup, mata
air permanen serta bentukan lorong-lorong bawah tanah. Bentang alam
Karst Gombong terbagi menjadi tiga kecamatan yaitu Kecamatan Buayan,
Kecamatan Ayah dan Kecamatan Rowokele dengan luasan lebih kurang 4.894
hektar (Kementerian ESDM,2003).
Kawasan Karst Karangbolong/Gombong merupakan penelitian yang
dilaksanakan secara berkelanjutan oleh Acintyacunyata Speleological Club
(ASC) dari tahun 1993, dengan tujuan untuk mengumpulkan dan melengkapi
data yang telah ada sebelumnya. Total sekitar 183 sebaran gua yang
berhasil terdata (Januari 2015) di Kawasan Karst Karangbolong/ Gombong
dengan keanekaragaman potensi yang ada.
GOMBONG SPELEOLOGY EXPEDITION 2014, diselenggarakan oleh Pengurus
Acintyacunyata Speleological Club (ASC) berlokasi di Kawasan Karst
Karangbolong/ Gombong, Kecamatan Buayan dan Ayah, Kabupaten Kebumen,
Propinsi Jawa Tengah, pada tanggal 20 September s.d 05 Oktober 2014.
Selain untuk meningkatkan kemampuan Calon Anggota Acintyacunyata
Speleological Club (ASC) pelaksanaan kegiatan ini juga bertujuan untuk
mendata potensi yang terkandung di gua-gua di Kawasan Karst Karang
Bolong/ Karst Gombong, yang diantaranya adalah potensi air bawah tanah,
potensi arkeologi, dan potensi ilmiah lainnya.
Hasil dari kegiatan GOMBONG SPELEOLOGY EXPEDITION diupayakan bukan
sekedar penelitian hobi semata, namun berdasarkan studi literatur yang
telah dipublikasikan dan dapat dipertanggungjawabkan isinya dalam
batasan ilmu speleologi, dan juga nantinya dapat digunakan sebagai data
pendukung dalam kaitannya perlindungan dan pelestarian kawasan kast,
khususnya di kawasan karst Karangbolong/ Gombong. Adapun kegiatan
tersebut terdiri dari :
Tabel
konsumsi semen dunia,konsumsi semen Indonesia jauh dibawah konsumsi
beberapa negara hanya 229kg/kapita. Sumber : Laporan tahunan Heidelberg
grup, 2014
Mendekati putusan PTUN Semarang terhadap sebuah perusahaan patungan
pemerintah dan pemodal asing yang bergerak di industri semen, masyarakat
seperti saya dibombardir oleh propaganda bahwa industri semen ramah
lingkungan. Benarkah demikian?
Saya bukan ahli apapun, hanya seorang praktisi speleologi yang
berkiprah hampir 14 tahun di dunia bawah tanah. Pun demikian, pengalaman
bersentuhan langsung dengan kawasan karst dan masyarakatnya selama ini
membentuk pemahaman yang kuat pada diri saya, bahwa karst adalah bagian
penting dari kehidupan manusia. Bahwa karst memberi manfaat langsung
bagi manusia yang hidup di dalam dan sekitarnya saya persaksikan
langsung di lapangan. Air, tanah, tumbuh-tumbuhan dan segala bentuk
kehidupan di dalamnya membentuk ikatan yang kuat secara berimbang dan
tidak saling meniadakan. Harmoni itu yang seharusnya tidak dirusak oleh
keserakahan manusia yang bernafsu ingin menguasai segala hal sebagai
pundi-pundi hidupnya.
Saya telah mengunjungi banyak kawasan karst yang dihancurkan oleh
industri ekstraksi batugamping yang digerakkan pemodal-pemodal besar.
Saya melihat langsung apa yang terjadi di lapangan, saya mendengar
langsung penuturan manusia-manusia yang hidup di sana, bukan dari
dugaan-dugaan akademis yang dibungkus sampul bermacam judul. Hanya satu
yang layak saya katakan, “Industri semen ramah lingkungan hanya impian
semata”. Dan mereka yang mengatakannya, jelas sudah bermimpi dan memaksa
banyak orang untuk mempercayai mimpinya.
Syahwat luar biasa besar orang-orang yang ingin menggusur hak hidup
masyarakat karst kemudian membuat saya tergerak untuk membuka cakrawala
yang lebih luas, ke dunia yang lebih maju dan memiliki teknologi lebih
canggih dari negara yang saya cintai ini. Apa yang saya jumpai sunggguh
membuat saya yakin, bahwa “keramahan” yang dijanjikan semakin jauh dari
kenyataan jika tidak inhin dianggap dusta.
Mari kita lihat beberapa hal yang sudah tercatat di beberapa media
internasional, apakah teknologi canggih bisa mewujudkan industri semen
ramah lingkunga saat ini :
1. Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China menyatakan
penutupan sejumlah pabrik di China untuk efisiensi energi yang
bertujuan mengurangi emisi karbon. Sejumlah pabrik yang ditutup
pemerintah China meliputi 762 pabrik semen, 279 pabrik kertas, 175
pabrik baja dan 84 pabrik pengolahan kulit (K. Bradsher, New York Times,
9/8/2010)
2. Di Propinsi Hebei-China Utara, Pemerintah China menganggarkan 47.7
US dolar lebih untuk membangun instalasi pemantau udara akibat
pencemaran Sulfur Dioksida dan Nitrogen Oksida yang parah oleh industri
baja dan semen. Di samping itu pemerintah China akan mengurangi produksi
baja hingga 60 juta ton dan menutup pabrik semen yang memiliki
kapasitas produksi 61 juta ton. (Zheng Jingran, China Daily, 28/11/2013)
3. US Environtment Protection Agency (EPA) pada tahun 2010 memaksa
Lafarge Company, perusahaan semen terbesar kedua di USA untuk
menandatangani kesepakatan mengurangi emisi Nitrogen Oksida (Nox) dan
Sulfur Oksida (SO2) dengan membangun instalasi pengurang bahan pencemear
dan mengoperasikannya selama 24 jam setiap hari serta membayar civil
penalty sebesar 5,075 juta US Dolar (setara 66 Trilyun) kepada
pemerintah dalam jangka waktu 30 hari (www2.epa.gov)
4. California Watch melaporkan berdasarkan data inventarisasi EPA
tentang bahan beracun yang dilepaskan ke udara, The Lehigh Cement
(Heidelberg Grup) di Kota Tehachapi memproduksi emisi merkuri 872 pound
(395,5 kg) pada tahun 2010 (ambang batas yang diijinkan adalah 55 pound
(24,9kg)/juta ton semen. Untuk pelanggaran ambang batas emisi merkuri
ini The Lehigh Cement diwajibkan membayar 1 miliar US dolar, denda
sesuai undang-undang yang berlaku 3,4 miliar US dolar. (Sam Pearson,
California Watch, 8/2/2012)
Rekaman media internasional tersebut tentu saja belum mencakup semua
permasalahan lingkungan di seluruh dunia yang saya yakin lebih banyak
jumlahnya, namun demikian seharusnya kita bisa mengukur diri apakah
teknologi yang kita miliki, regulasi yang kita punyai dan budaya dalam
hal mentaati segala macam aturan selama ini sudah mampu menjadi jaminan
bahwa industri semen bisa ramah lingkungan di negara kita? (A.B. Rodhial
Falah)
Sebaran pabrik semen di Pulau Jawa (diolah dari peta sebaran karst http://www.biota.org)
Indonesia adalah negeri
yang diberkahi kekayaan alam melimpah baik yang ada di atas tanah maupun
di bawah tanah. Kekayaan alam itu semestinya mensejahterakan rakyat
dari generasi ke generasi. Salah satu kekayaan alam yang jarang disadari
keberadaannya adalah Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK), yaitu kawasan
perbukitan kapur yang telah mengalami proses pelarutan sedemikian rupa
sehingga menunjukkan ciri-ciri fisik yang unik dan khas.
Fungsi utama kawasan
karst bagi kehidupan manusia adalah kemampuannya menyerap air hujan,
menyimpan dan mengeluarkannya sebagai mata air (akuifer air bersih).
Jutaan meter kubik air hujan setiap tahun terserap dengan baik oleh
KBAK. Di dunia, 15% luas daratan adalah kawasan bentang alam karst, di
mana kawasan ini mencukupi 25% kebutuhan air bersih penduduk dunia (D.C
Ford et al, 1988).
Fungsi lain kawasan
karst adalah sebagai penyerap karbondioksida (CO2) di atmosfer. Dalam
satu tahun Kawasan Bentang Alam Karst di dunia mampu menyerap 0,41
milyar metrik ton CO2 dari atmosfer, namun dalam proses karstifikasi
akan melepaskan kembali 0.3 miliar metrik ton CO2, sehingga rata-rata
Co2 yang terserap 0.11 miliar metrik ton (Liu & Zhao, 1999). Kawasan
karst menjadi salah satu rantai penting dalam siklus karbon di dunia.
Goa yang banyak terdapat
di kawasan, menjadi rumah bagi berbagai jenis fauna endemik yang
berfungsi sebagai penyeimbang ekosistem. Salah satu fauna yang membawa
dampak langsung bagi kehidupan manusia adalah kelelawar. Seekor
kelelawar jenis pemakan serangga -memiliki berat tubuh rata-rata 17
gram- setiap malam mampu memakan serangga hingga seperempat berat
tubuhnya (4,25 gram) = +/- 800 – 1200 ekor serangga (Wiantoro, 2006).
Ribuan kelelawar yang tinggal dalam suatu goa diyakini menjadi predator
utama serangga yang berpotensi menjadi hama pertanian.
Grafik perbandingan kondisi ketersediaan dan kebutuhan air vs kebutuhan dan ketersediaan semen Di Pulau Jawa
Ancaman Terhadap Kawasan Bentang Alam Karst
Industri ekstraktif
batugamping yang menjadi penyusun bentang alam karst masih menjadi
ancaman utama kawasan karst di dunia. Batugamping yang menyusun kawasan
karst mengandung unsur karbonat (CaCo3) yang tinggi, tidak kurang dari
80%, kandungan karbonat dalam batugamping penyusun karst ada yang
mencapai 95–100 %, seperti yang dijumpai pada di Karst Dinaric-
Yugoslavia yang berumur antara 65-145 juta tahun lalu (Herak, 1972).
Unsur karbonat ini memiliki nilai ekonomis dan diminati oleh pelaku
industri semen portland karena dianggap sebagai bahan dasar yang belum
tergantikan hingga saat ini.Indonesia yang hanya memiliki 0.7% dari luas
kawasan karst dunia (luas kawasan karst dunia 22 juta kilometer persegi
menurut Liu & Zhao, 1999) menjadi tujuan utama investasi industri
semen sejak pelarangan industri semen di beberapa negara maju di dunia
seperti China (33% daratan China adalah kawasan karst). Alasan penutupan
pabrik semen di China adalah efisiensi energi dan karena industri semen
sebagai salah satu penyumbang emisi karbon dan sumber polutan udara
terbesar selain industri baja.
Industri semen di
Indonesia terkonsentrasi di Pulau Jawa yang notabene merupakan pulau
terpadat di Indonesia. Beberapa indutri semen juga beroperasi di jantung
kawasan karst di pulau Sulawesi dan Sumatera. Di beberapa kawasan,
pendirian pabrik semen memicu konflik dengan masyarakat setempat.
Penyebabnya adalah kawasan karst yang akan atau telah diambil
batugampingnya oleh industri semen merupakan aset penting bagi
masyarakat di sekitarnya yang mayoritas adalah petani. Mata air yang
memancar dari perbukitan karst merupakan sumber kehidupan baik untuk
memenuhi kebutuhan air bersih maupun untuk irigasi persawahan.Pulau
Jawa sebagai representasi pengelolaan kawasan karst di Indonesia saat
ini masih mengalami masalah serius tumpang tindihnya tata ruang.
Perundangan yang ada belum sepenuhnya ditegakkan implementasinya oleh
pemangku kekuasaan.
Hal ini menjadi suar peringatan bagi para pegiat
pelestarian karst di Indonesia untuk bersiap-siap menghimpun diri
menjadi garda terdepan upaya perlindungan dan penyelamatan kawasan karst
di wilayah lain di Indonesia. Cadangan yang sangat sedikit dan proses
penciptaan yang memakan waktu ribuan tahun menjadi alasan yang logis
bagi para pihak untuk merubah pola pikir bahwa kawasan karst merupakan
Sumber Daya Alam yang tak terbarukan, bukan sekedar bahan galian C
sebagaimana yang berlaku selama ini.
Pengelolaan Kawasan Bentang Alam Karst
Saat ini, pengelolaan KBAK masih tumpah tindih karena tarik ulur
kepentingan berbagai pihak. Secara fungsi, KBAK dilindungi oleh regulasi
yang dikeluarkan oleh Pemerintah (PP Nomor 26 tahun 2008 tentang RTRW
Nasional). Secara fisik KBAK diatur oleh regulasi dari Kementerian ESDM
(Permen ESDM No.17 tahun 2012
tentang Penetapan KBAK).Namun prakteknya, KBAK sering salah urus
ditangan pemerintah daerah. Fakta bahwa sebagian besar KBAK berada di
kawasan hutan yang menjadi tanggungjawab Kementerian Kehutanan dan
PERHUTANI semakin memperumit pengelolaan KBAK. Akibatnya, penetapan KBAK
sering tidak sesuai dengan data- data lapangan sehingga mengancam
fungsi lindung yang telah ditetapkan oleh Pemerintah dan memicu konflik
di banyak daerah. Konflik yang sering terjadi dipicu oleh benturan antara
masyarakat yang menggantungkan kehidupannya pada fungsi ekologis KBAK
(sebagai penyedia air dan lahan bercocok tanam) dengan investor yang
diakomodasi pemerintah setempat.
Laju perusakan kawasan
karst di Indonesia jauh lebih cepat dari upaya perlindungan yang
dilakukan selama ini. Kawasan perbukitan batukapur yang memiliki potensi
karst yang telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai KBAK baru meliputi 3
wilayah saja : KBAK Sukolilo, KBAK Gombong dan KBAK Gunugsewu. Padahal
penelitian dari para ahli setidaknya di Pulau Jawa saja terdapat lebih
dari 27 kawasan karst (berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh
Balaz. 1968).
Melihat semua fakta-fakta tentang KBAK ini, negara
secepatnya perlu memiliki sebuah badan atau komisi yang secara khusus
menangani permasalahan karst di Indonesia yang terdiri dari berbagai
unsur yang mampu mempengaruhi, mengontrol dan mengevaluasi
kebijakan-kebijakan yang diambil para pemangku kebijakan terkait
pengelolaan kawasan bentang alam karst di Indonesia.Sebagai potensi
sumber daya alam yang tak terbarui dan menjadi sandaran hidup jutaan
orang di Indonesia, kawasan bentang alam karst layak untuk segera diurus
sebagaimana mestinya. Jangan menunggu sampai kawasan bentang alam karst
terakhir hilang dari peta Republik Indonesia! (A.B. Rodhial Falah)
Oleh: Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng Utara
Bencana Banjarnegara menjadi duka bagi Jawa Tengah di awal musim
penghujan ini. Lebih dari delapan puluh keluarga tertimbun tanah dari
perbuktian di belakang dusun itu. Bantuan berdatangan untuk mengevakuasi
korban atau menyelamatkan mereka yang masih bertahan. Semua orang ingin
memperlihatkan bahwa mereka peduli akan bencana ini.
Namun, ini jelas
bukan bencana yang tidak ada penyebabnya. Selain karena faktor alam,
tidak sesuainya peruntukan lahan dituding menjadi pemicu longsor.
Lagi-lagi ulah manusia menjadi faktor penyebab bencana. Ditengah ini
semua, ada hal yang terus saja mengancam dan menjadi penyebab
berulangnya bencana yaitu keberadaan tambang! Menurut data dari
BNPB, Jawa Tengah disebut sebagai provinsi dengan tingkat kerawanan
bencana paling tinggi dalam sejarah Indonesia. Dalam websitenya BNPB
menyebutkan ada ribuan bencana yang teradi di Jawa Tengah. Pun
pengelompokan yang dilakukan oleh BNPB masih dalam kategori bencana yang
disebabkan oleh alam. Ini belum lagi bencana yang diakibatkan oleh
industri pertambangan yang ada di Jawa Tengah. Potensi bencana akibat
idustri ini lazim disebut sebagai bencana industri. Untuk konteks
Jawa Tengah, terdapat banyak penambangan yang akan menyebabkan
penambangan menjadi ancaman serius, antara lain pembangunan pabrik semen
di Pati, Rembang, Ajibarang, Kebumen, Wonogiri, Blora dan Grobogan.
Wilayah-wilayah basis pertanian ingin dirombak sedemikian rupa menjadi
lahan tambang setelah selama ini menjadi basis pangan bagi seluruh
nusantara. Tak cukup dengan itu, penambangan pasir besi juga terus
mengintai di beberapa daerah, antara lain Jepara, Kebumen, Pati, Cilacap
dan Purworejo. Daerah basis perikanan terancam pula oleh industri
pertambangan. Ini belum lagi kasus-kasu pertambangan yang tidak
terpublikasi di media. Dapat dikatakan bahwa saat ini Jawa Tengah
darurat tambang. Argumen penambahan asli daerah (PAD) selalu menjadi
alasan bagi para politisi untuk menarik masuk perusahaan-perusahaan
tambang itu. Padahal keuntungan yang didapatkan tidak sebanding dengan
bencana yang akan didatangkan. Apakah pemerintah memang sengaja untuk
memperbesar dana bencana agar menjadi lahan korupsi baru? Ini tidak
boleh dibiarkan. Kami mengajak saudara-saudara untuk terlibat dalam
aksi “Jawa Tengah Darurat Tambang!” pada hari Rabu tanggal 17 Desember
2014 untuk aksi pendirian tenda di depan PTUN Semarang dan aksi bersama
pada 18 Desember 2014 di depan kantor Gubernur Jawa Tengah mulai pkl
09.00 WIB dengan tuntutan:
1. Menuntut hakim PTUN Semarang untuk menolak eksepsi Gubernur Jawa Tengah dalam kasus PT. Semen Indonesia di Rembang. 2. Menuntut gubernur untuk melakukan moratorium penambangan di Jawa Tengah. 3. Menuntut gubernur mewujudkan visi Jawa Tengah sebagai lumbung pangan.
4. Cabut izin lingkungan PT. Semen Indonesia di Rembang karena
ditemukan banyak manipulasi data dan prosedur yang penuh kebohongan.
Apa yang terjadi di Rembang akan pula terjadi di tempat saudara-saudara
sekalian saat penguasa dan pengusaha bersekutu untuk mengeruk kekayaan
alam sambil menginjak-injak hak rakyat kecil. Kota-kota yang akan
terlibat di aksi ini antara lain Pati, Blora, Rembang, Grobogan, Jepara,
Temanggung, Kudus dan Semarang. Untuk kota-kota lain yang akan terlibat
silahkan berkoordinasi.
Koordinator lapangan: Zaenal (085727149369) Koordinator umum : Joko Prianto (082314203339) Sekian. Salam Kendeng!
GOMBONG -
Perlu waktu puluhan juta tahun untuk membentuk gugusan terumbu karang
dan mencuatkannya ke permukaan bumi sebagai pegunungan karst.
Sebaliknya, bagi pabrik semen, hanya butuh puluhan tahun untuk
menghancurkan dan mengubahnya menjadi mesin uang.
Pidato
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tentang karst Gombong Selatan pada
Desember 2004 silam seolah memberi harapan akan keberpihakan pemerintah
pada kelestarian ekosistem, keanekaragaman hayati, dan pembangunan
berkelanjutan. Setelah sepulih tahun berlalu, gaung yang coba digemakan
Presiden yang akan lengser itu pun mulai meredup. Isu pelestarian karst
tak dianggap menarik. ”Orang
lupa bahwa di balik kawasan karst terdapat cadangan sumber air bersih
berbentuk sungai bawah tanah, berbagai flora dan fauna, serta
peninggalan arkeologi di beberapa gua tertentu,” kata Ketua Program
Studi Teknik Geologi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut
Teknologi Bandung Budi Brahmantyo.
Air
di balik pegunungan karst ibarat harta karun. Tak semuanya muncul di
permukaan dan mudah dijangkau. Membutuhkan penelusuran gua untuk
mengetahui dari mana datangnya dan ke arah mana air mengalir. Secara
garis besar, air datang dari hujan yang jatuh ke permukaan karst yang
berpori dan bercelah. Ada yang membentuk bebatuan gamping melalui
proseskarstifikasi. Ada juga yang menetes dan jatuh membentuk danau
serta sungai kecil.
Di
wilayah Gombong Selatan, Dinas ESDM setempat mencatat sekitar 60 persen
batu gamping termasuk karst kelas I dan 30 persen kelas II. Sisanya, 10
persen, masuk dalam kawasan karst kelas III. Karst di kawasan itu juga
sangat baik untuk bahan baku pembuatan semen.
Tahun
1997, PT Semen Gombong rencananya akan mendirikan pabrik semen di
wilayah itu. Namun rencana itu tertunda sampai saat ini akibat krisis
moneter tahun 1998. Keberadaan 122 gua di kawasan karst Gombong selatan,
Jawa Tengah itu akan terancam jika pembangunan pabrik semen PT Semen
Gombong dilanjutkan.
Kawasan
karst ini meliputi kecamatan Rowokele di bagian Utara, kecamatan Buayan
di bagian Timur, kecamatan Ayah di bagian Barat, sedangkan bagian
Selatan berbatasan langsung dengan pantai Selatan Jawa atau Samudra
Hindia. Luasnya sekitar 50.835.025,2 m². (LintasKebumen)
Kawasan ini terkenal dengan bentukan “cockpit karst”
mempunyai gua-gua yang panjang seperti Gua Barat, Gua Jatijajar, Gua
Liah, Gua Petruk dan lain-lainnya. Batuan gamping yang berumur Miosen
bersifat keras, kompak dan sebafian berlapisan, termasuk jenis murni
yang berwarna putih susu samapai kuning pucat. Panjang perbukitan kapur
ini mencapai 8 km dan lebar 3 kmdengan luasan mencapai 40 km2.
” Ketinggian mutlak perbukitan karst
di Gombong selatan berkisar 300-400 sedangkan ketinggian relatif hanya
berkisar 50-150 m. Umur batuan karstnya berasal dari endapan berumur
Miosen dengan permulaan karstifikasi pada akhir pliosen (awal
Pleistosen). ”
(Balazs, 1968)
Ancaman kawasan ini adalah aktivitas
penambangan kapur oleh Semen Gombong yang akan mengancam sumber air bagi
kawasan Kebumen dan Cilacap serta daerah lain di sekitarnya namun konon
proyek tersebut terhenti terutama dengan dicanangkannya Gombong sebagai
kawasan Eko Karst pada Bulan desember 2004 lalu.
Survai fauna gua belum banyak dilakukan,
di Gua Petruk dilakukan inventarisasi Arthropoda oleh Suhardjono et al.
2001 diperoleh ada 20 jenis yang terdiri 5 jenis troglobit dan 5 jenis
guanobite sisanya dalam katagori troglofil dan troglosen. Gua Petruk
mempunyai keanekaragaman jenis paling tinggi terutama dengan
ditemukannay beberapa jenis Collembola terutama jenis Cyphoderopsis sp.
dan Dermaptera yang banyak ditemukan di permukaan guano (Xeniaria jacobsoni Burr). Kelompok Arachnida yang ditemukan adalah Stygophrynus sp. danPseudoscorpionspp.
sumber https://cavefauna.wordpress.com/karst-areas-of-indonesia/gombong-selatan/
BUAYAN - Selain Kawasan Geologi Karangsambung, Kawasan Karst Gombong
Selatan (KKGS) merupakan salah satu kekayaan alam yang dimiliki
Kabupaten Kebumen.
Perbukitan kapur berupa karst itu sangat istimewa, karena proses terbentuknya terjadi ratusan ribu bahkan jutaan tahun silam.
Secara fisik di permukaan, kawasan karst di Gombong selatan terlihat
kering dan gersang. Namun di bawah tanah banyak mengandung sumber air
yang terus mengalir tiada henti dan penyimpan cadangan air.
Berikut beberapa fakta menarik tentang Kawasan Karst Gombong Selatan:
1. Kawasan Karst Gombong Selatan (KKGS), pada tahun 2004 ditetapkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai kawasan eko-karst.
2.
Terdapat 122 gua bahkan 173 gua di Kawasan Karst Gombong Selatan
(KKGS). Diantaranya Gua Pucung, Gua Jeblosan, dan Gua Candi sebagai
sumber air bawah tanah.
3. Batuan penyusun Kawasan Karst Gombong Selatan (KKGS) merupakan bagian
dari Formasi Kalipucang yang berumur miosen (11-25 juta tahun lalu).
4. Kawasan Karst Gombong Selatan (KKGS) memiliki panjang perbukitan
kapur mencapai 8 km dan lebar 3 km dengan luasan mencapai lebih dari 40
km2 yang meliputi tiga kecamatan di pojok barat daya kebumen, yakni
Kecamatan Ayah, Rowokele dan Buayan.
5. Terdapat air terjun setinggi 32 meter dibawah Kawasan Karst Gombong
Selatan (KKGS), tepatnya di Goa Barat di desa Jatijajar, kecamatan Ayah.
6. Goa Petruk di Kawasan Karst Gombong Selatan (KKGS) termasuk dalam
slah satu goa terdalam di dunia dengan panjang jelajah mencapai lebih
dari 2 Km.
Tentu bukan hanya itu saja, masih banyak fungsi penting dari karst untuk
masyarakat sekitar. Sebuah pabrik semen kini tengah menunggu Ijin akhir
Usaha Pertambangan dari Pemerintah Kabupaten Kebumen untuk melakukan
kegiatan eksplorasi di Kawasan Karst Gombong Selatan (KKGS).