Our social:

Latest Post

Sabtu, 02 Mei 2015

Gombong Speleologi Expedition 2014


Gua merupakan indikator yang penting dalam penelitian karst karena gua dapat menunjukkan tingkat karstifikasi. Gua-gua yang masih aktif aliran sungai bawah tanahnya memiliki potensi dan peran dalam hidrologi kawasan yang sangat penting. Gua juga merupakan hunian berbagai biota yang memiliki fungsi lingkungan yang sangat penting, misalnya kelelawar. Berbagai jenis kelelawar memiliki peran sebagai predator hama serangga dan tikus, penyerbuk, dan penyebar biji-bijian. Potensi gua lainnya adalah untuk wisata, baik wisata umum maupun wisata minat khusus.

Kawasan Karst Karangbolong/Gombong merupakan kawasan yang tersusun dari Formasi Kalipucang yang berumur Miosen (11 – 25 juta tahun yang lalu). Yang tersusun oleh batugamping terumbu, batugamping klastik, batulempung, serpih dan batupasir. Gejala karstifikasi ini meliputi kenampakan morfologi berupa bukit-bukit, lembah-lembah tertutup, mata air permanen serta bentukan lorong-lorong bawah tanah. Bentang alam Karst Gombong terbagi menjadi tiga kecamatan yaitu Kecamatan Buayan, Kecamatan Ayah dan Kecamatan Rowokele dengan luasan lebih kurang 4.894 hektar (Kementerian ESDM,2003).

Kawasan Karst Karangbolong/Gombong merupakan penelitian yang dilaksanakan secara berkelanjutan oleh Acintyacunyata Speleological Club (ASC) dari tahun 1993, dengan tujuan untuk mengumpulkan dan melengkapi data yang telah ada sebelumnya. Total sekitar 183 sebaran gua yang berhasil terdata (Januari 2015) di Kawasan Karst Karangbolong/ Gombong dengan keanekaragaman potensi yang ada.

GOMBONG SPELEOLOGY EXPEDITION 2014, diselenggarakan oleh Pengurus Acintyacunyata Speleological Club (ASC) berlokasi di Kawasan Karst Karangbolong/ Gombong, Kecamatan Buayan dan Ayah, Kabupaten Kebumen, Propinsi Jawa Tengah, pada tanggal 20 September s.d 05 Oktober 2014. Selain untuk meningkatkan kemampuan Calon Anggota Acintyacunyata Speleological Club (ASC) pelaksanaan kegiatan ini juga bertujuan untuk mendata potensi yang terkandung di gua-gua di Kawasan Karst Karang Bolong/ Karst Gombong, yang diantaranya adalah potensi air bawah tanah, potensi arkeologi, dan potensi ilmiah lainnya.

Hasil dari kegiatan GOMBONG SPELEOLOGY EXPEDITION diupayakan bukan sekedar penelitian hobi semata, namun berdasarkan studi literatur yang telah dipublikasikan dan dapat dipertanggungjawabkan isinya dalam batasan ilmu speleologi, dan juga nantinya dapat digunakan sebagai data pendukung dalam kaitannya perlindungan dan pelestarian kawasan kast, khususnya di kawasan karst Karangbolong/ Gombong. Adapun kegiatan tersebut terdiri dari :






https://ascindonesia.wordpress.com/2015/05/01/gombong-speleology-expedition-2014-bukan-sekedar-penelitian-hobi/?blogsub=confirming#subscribe-blog

Selasa, 14 April 2015

Industri Semen Ramah Lingkungan?

Kamis, 26 Maret 2015

Potret Kawasan Karst Indonesia

by speleopartner 
Sebaran pabrik semen di Pulau Jawa (diolah dari peta sebaran karst http://www.biota.org)


Indonesia adalah negeri yang diberkahi kekayaan alam melimpah baik yang ada di atas tanah maupun di bawah tanah. Kekayaan alam itu semestinya mensejahterakan rakyat dari generasi ke generasi. Salah satu kekayaan alam yang jarang disadari keberadaannya adalah Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK), yaitu kawasan perbukitan kapur yang telah mengalami proses pelarutan sedemikian rupa sehingga menunjukkan ciri-ciri fisik yang unik dan khas.

Fungsi utama kawasan karst bagi kehidupan manusia adalah kemampuannya menyerap air hujan, menyimpan dan mengeluarkannya sebagai mata air (akuifer air bersih). Jutaan meter kubik air hujan setiap tahun terserap dengan baik oleh KBAK. Di dunia, 15% luas daratan adalah kawasan bentang alam karst, di mana kawasan ini mencukupi 25% kebutuhan air bersih penduduk dunia (D.C Ford et al, 1988).

Fungsi lain kawasan karst adalah sebagai penyerap karbondioksida (CO2) di atmosfer. Dalam satu tahun Kawasan Bentang Alam Karst di dunia mampu menyerap 0,41 milyar metrik ton CO2 dari atmosfer, namun dalam proses karstifikasi akan melepaskan kembali 0.3 miliar metrik ton CO2, sehingga rata-rata Co2 yang terserap 0.11 miliar metrik ton (Liu & Zhao, 1999). Kawasan karst menjadi salah satu rantai penting dalam siklus karbon di dunia.

Goa yang banyak terdapat di kawasan, menjadi rumah bagi berbagai jenis fauna endemik yang berfungsi sebagai penyeimbang ekosistem. Salah satu fauna yang membawa dampak langsung bagi kehidupan manusia adalah kelelawar. Seekor kelelawar jenis pemakan serangga -memiliki berat tubuh rata-rata 17 gram- setiap malam mampu memakan serangga hingga seperempat berat tubuhnya (4,25 gram) = +/- 800 – 1200 ekor serangga (Wiantoro, 2006). Ribuan kelelawar yang tinggal dalam suatu goa diyakini menjadi predator utama serangga yang berpotensi menjadi hama pertanian.
Grafik perbandingan kondisi ketersediaan dan kebutuhan air vs kebutuhan dan ketersediaan semen Di Pulau Jawa

Grafik perbandingan kondisi ketersediaan dan kebutuhan air vs kebutuhan dan ketersediaan semen Di Pulau Jawa

Ancaman Terhadap Kawasan Bentang Alam Karst 
Industri ekstraktif batugamping yang menjadi penyusun bentang alam karst masih menjadi ancaman utama kawasan karst di dunia. Batugamping yang menyusun kawasan karst mengandung unsur karbonat (CaCo3) yang tinggi, tidak kurang dari 80%, kandungan karbonat dalam batugamping penyusun karst ada yang mencapai 95–100 %, seperti yang dijumpai pada di Karst Dinaric- Yugoslavia yang berumur antara 65-145 juta tahun lalu (Herak, 1972).
Unsur karbonat ini memiliki nilai ekonomis dan diminati oleh pelaku industri semen portland karena dianggap sebagai bahan dasar yang belum tergantikan hingga saat ini.Indonesia yang hanya memiliki 0.7% dari luas kawasan karst dunia (luas kawasan karst dunia 22 juta kilometer persegi menurut Liu & Zhao, 1999) menjadi tujuan utama investasi industri semen sejak pelarangan industri semen di beberapa negara maju di dunia seperti China (33% daratan China adalah kawasan karst). Alasan penutupan pabrik semen di China adalah efisiensi energi dan karena industri semen sebagai salah satu penyumbang emisi karbon dan sumber polutan udara terbesar selain industri baja.

Industri semen di Indonesia terkonsentrasi di Pulau Jawa yang notabene merupakan pulau terpadat di Indonesia. Beberapa indutri semen juga beroperasi di jantung kawasan karst di pulau Sulawesi dan Sumatera. Di beberapa kawasan, pendirian pabrik semen memicu konflik dengan masyarakat setempat. Penyebabnya adalah kawasan karst yang akan atau telah diambil batugampingnya oleh industri semen merupakan aset penting bagi masyarakat di sekitarnya yang mayoritas adalah petani. Mata air yang memancar dari perbukitan karst merupakan sumber kehidupan baik untuk memenuhi kebutuhan air bersih maupun untuk irigasi persawahan.Pulau Jawa sebagai representasi pengelolaan kawasan karst di Indonesia saat ini masih mengalami masalah serius tumpang tindihnya tata ruang. Perundangan yang ada belum sepenuhnya ditegakkan implementasinya oleh pemangku kekuasaan. 

Hal ini menjadi suar peringatan bagi para pegiat pelestarian karst di Indonesia untuk bersiap-siap menghimpun diri menjadi garda terdepan upaya perlindungan dan penyelamatan kawasan karst di wilayah lain di Indonesia. Cadangan yang sangat sedikit dan proses penciptaan yang memakan waktu ribuan tahun menjadi alasan yang logis bagi para pihak untuk merubah pola pikir bahwa kawasan karst merupakan Sumber Daya Alam yang tak terbarukan, bukan sekedar bahan galian C sebagaimana yang berlaku selama ini.

Pengelolaan Kawasan Bentang Alam Karst
 
Saat ini, pengelolaan KBAK masih tumpah tindih karena tarik ulur kepentingan berbagai pihak. Secara fungsi, KBAK dilindungi oleh regulasi yang dikeluarkan oleh Pemerintah (PP Nomor 26 tahun 2008 tentang RTRW Nasional). Secara fisik KBAK diatur oleh regulasi dari Kementerian ESDM (Permen ESDM No.17 tahun 2012 tentang Penetapan KBAK).Namun prakteknya, KBAK sering salah urus ditangan pemerintah daerah. Fakta bahwa sebagian besar KBAK berada di kawasan hutan yang menjadi tanggungjawab Kementerian Kehutanan dan PERHUTANI semakin memperumit pengelolaan KBAK. Akibatnya, penetapan KBAK sering tidak sesuai dengan data- data lapangan sehingga mengancam fungsi lindung yang telah ditetapkan oleh Pemerintah dan memicu konflik di banyak daerah. Konflik yang sering terjadi dipicu oleh benturan antara masyarakat yang menggantungkan kehidupannya pada fungsi ekologis KBAK (sebagai penyedia air dan lahan bercocok tanam) dengan investor yang diakomodasi pemerintah setempat.
 
Laju perusakan kawasan karst di Indonesia jauh lebih cepat dari upaya perlindungan yang dilakukan selama ini. Kawasan perbukitan batukapur yang memiliki potensi karst yang telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai KBAK baru meliputi 3 wilayah saja : KBAK Sukolilo, KBAK Gombong dan KBAK Gunugsewu. Padahal penelitian dari para ahli setidaknya di Pulau Jawa saja terdapat lebih dari 27 kawasan karst (berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Balaz. 1968).

Melihat semua fakta-fakta tentang KBAK ini, negara secepatnya perlu memiliki sebuah badan atau komisi yang secara khusus menangani permasalahan karst di Indonesia yang terdiri dari berbagai unsur yang mampu mempengaruhi, mengontrol dan mengevaluasi kebijakan-kebijakan yang diambil para pemangku kebijakan terkait pengelolaan kawasan bentang alam karst di Indonesia.Sebagai potensi sumber daya alam yang tak terbarui dan menjadi sandaran hidup jutaan orang di Indonesia, kawasan bentang alam karst layak untuk segera diurus sebagaimana mestinya. Jangan menunggu sampai kawasan bentang alam karst terakhir hilang dari peta Republik Indonesia! (A.B. Rodhial Falah)

https://speleoside.wordpress.com/2015/03/25/potret-kawasan-karst-indonesia/

Rabu, 17 Desember 2014

Seruan Aksi: Jawa Tengah Darurat Tambang!

Oleh: Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng Utara

Bencana Banjarnegara menjadi duka bagi Jawa Tengah di awal musim penghujan ini. Lebih dari delapan puluh keluarga tertimbun tanah dari perbuktian di belakang dusun itu. Bantuan berdatangan untuk mengevakuasi korban atau menyelamatkan mereka yang masih bertahan. Semua orang ingin memperlihatkan bahwa mereka peduli akan bencana ini. 


Namun, ini jelas bukan bencana yang tidak ada penyebabnya. Selain karena faktor alam, tidak sesuainya peruntukan lahan dituding menjadi pemicu longsor. Lagi-lagi ulah manusia menjadi faktor penyebab bencana. Ditengah ini semua, ada hal yang terus saja mengancam dan menjadi penyebab berulangnya bencana yaitu keberadaan tambang!

Menurut data dari BNPB, Jawa Tengah disebut sebagai provinsi dengan tingkat kerawanan bencana paling tinggi dalam sejarah Indonesia. Dalam websitenya BNPB menyebutkan ada ribuan bencana yang teradi di Jawa Tengah. Pun pengelompokan yang dilakukan oleh BNPB masih dalam kategori bencana yang disebabkan oleh alam. Ini belum lagi bencana yang diakibatkan oleh industri pertambangan yang ada di Jawa Tengah. Potensi bencana akibat idustri ini lazim disebut sebagai bencana industri. 


Untuk konteks Jawa Tengah, terdapat banyak penambangan yang akan menyebabkan penambangan menjadi ancaman serius, antara lain pembangunan pabrik semen di Pati, Rembang, Ajibarang, Kebumen, Wonogiri, Blora dan Grobogan. Wilayah-wilayah basis pertanian ingin dirombak sedemikian rupa menjadi lahan tambang setelah selama ini menjadi basis pangan bagi seluruh nusantara. Tak cukup dengan itu, penambangan pasir besi juga terus mengintai di beberapa daerah, antara lain Jepara, Kebumen, Pati, Cilacap dan Purworejo. Daerah basis perikanan terancam pula oleh industri pertambangan. Ini belum lagi kasus-kasu pertambangan yang tidak terpublikasi di media. Dapat dikatakan bahwa saat ini Jawa Tengah darurat tambang.


Argumen penambahan asli daerah (PAD) selalu menjadi alasan bagi para politisi untuk menarik masuk perusahaan-perusahaan tambang itu. Padahal keuntungan yang didapatkan tidak sebanding dengan bencana yang akan didatangkan. Apakah pemerintah memang sengaja untuk memperbesar dana bencana agar menjadi lahan korupsi baru? Ini tidak boleh dibiarkan.


Kami mengajak saudara-saudara untuk terlibat dalam aksi “Jawa Tengah Darurat Tambang!” pada hari Rabu tanggal 17 Desember 2014 untuk aksi pendirian tenda di depan PTUN Semarang dan aksi bersama pada 18 Desember 2014 di depan kantor Gubernur Jawa Tengah mulai pkl 09.00 WIB dengan tuntutan:
 

1. Menuntut hakim PTUN Semarang untuk menolak eksepsi Gubernur Jawa Tengah dalam kasus PT. Semen Indonesia di Rembang.
2. Menuntut gubernur untuk melakukan moratorium penambangan di Jawa Tengah.
3. Menuntut gubernur mewujudkan visi Jawa Tengah sebagai lumbung pangan.
4. Cabut izin lingkungan PT. Semen Indonesia di Rembang karena ditemukan banyak manipulasi data dan prosedur yang penuh kebohongan.
 

Apa yang terjadi di Rembang akan pula terjadi di tempat saudara-saudara sekalian saat penguasa dan pengusaha bersekutu untuk mengeruk kekayaan alam sambil menginjak-injak hak rakyat kecil. Kota-kota yang akan terlibat di aksi ini antara lain Pati, Blora, Rembang, Grobogan, Jepara, Temanggung, Kudus dan Semarang. Untuk kota-kota lain yang akan terlibat silahkan berkoordinasi.
 

Koordinator lapangan: Zaenal (085727149369)
Koordinator umum : Joko Prianto (082314203339)
Sekian. Salam Kendeng!

Minggu, 14 Desember 2014

Kawasan Karst Gombong Selatan Perlu Diselamatkan

Sabtu, 31 Mei 2014

GOMBONG - Perlu waktu puluhan juta tahun untuk membentuk gugusan terumbu karang dan mencuatkannya ke permukaan bumi sebagai pegunungan karst. Sebaliknya, bagi pabrik semen, hanya butuh puluhan tahun untuk menghancurkan dan mengubahnya menjadi mesin uang.

Pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tentang karst Gombong Selatan pada Desember 2004 silam seolah memberi harapan akan keberpihakan pemerintah pada kelestarian ekosistem, keanekaragaman hayati, dan pembangunan berkelanjutan. Setelah sepulih tahun berlalu, gaung yang coba digemakan Presiden yang akan lengser itu pun mulai meredup. Isu pelestarian karst tak dianggap menarik.
”Orang lupa bahwa di balik kawasan karst terdapat cadangan sumber air bersih berbentuk sungai bawah tanah, berbagai flora dan fauna, serta peninggalan arkeologi di beberapa gua tertentu,” kata Ketua Program Studi Teknik Geologi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung Budi Brahmantyo.

Air di balik pegunungan karst ibarat harta karun. Tak semuanya muncul di permukaan dan mudah dijangkau. Membutuhkan penelusuran gua untuk mengetahui dari mana datangnya dan ke arah mana air mengalir. Secara garis besar, air datang dari hujan yang jatuh ke permukaan karst yang berpori dan bercelah. Ada yang membentuk bebatuan gamping melalui proseskarstifikasi. Ada juga yang menetes dan jatuh membentuk danau serta sungai kecil.

Di wilayah Gombong Selatan, Dinas ESDM setempat mencatat sekitar 60 persen batu gamping termasuk karst kelas I dan 30 persen kelas II. Sisanya, 10 persen, masuk dalam kawasan karst kelas III. Karst di kawasan itu juga sangat baik untuk bahan baku pembuatan semen.

Tahun 1997, PT Semen Gombong rencananya akan mendirikan pabrik semen di wilayah itu. Namun rencana itu tertunda sampai saat ini akibat krisis moneter tahun 1998. Keberadaan 122 gua di kawasan karst Gombong selatan, Jawa Tengah itu akan terancam jika pembangunan pabrik semen PT Semen Gombong dilanjutkan.

Kawasan karst ini meliputi kecamatan Rowokele di bagian Utara, kecamatan Buayan di bagian Timur, kecamatan Ayah di bagian Barat, sedangkan bagian Selatan berbatasan langsung dengan pantai Selatan Jawa atau Samudra Hindia. Luasnya sekitar 50.835.025,2 m². (LintasKebumen) 
 

http://juniaminudin.blogspot.com/2014/05/kawasan-karst-gombong-selatan-perlu.html

Rabu, 10 Desember 2014

Gombong Selatan

Kawasan ini terkenal dengan bentukan “cockpit karst” mempunyai gua-gua yang panjang seperti Gua Barat, Gua Jatijajar, Gua Liah, Gua Petruk dan lain-lainnya. Batuan gamping yang berumur Miosen bersifat keras, kompak dan sebafian berlapisan, termasuk jenis murni yang berwarna putih susu samapai kuning pucat. Panjang perbukitan kapur ini mencapai 8 km dan lebar 3 kmdengan luasan mencapai 40 km2.
” Ketinggian mutlak perbukitan karst di Gombong selatan berkisar 300-400 sedangkan ketinggian relatif hanya berkisar 50-150 m. Umur batuan karstnya berasal dari endapan berumur Miosen dengan permulaan karstifikasi pada akhir pliosen (awal Pleistosen). ”
(Balazs, 1968)
Ancaman kawasan ini adalah aktivitas penambangan kapur oleh Semen Gombong yang akan mengancam sumber air bagi kawasan Kebumen dan Cilacap serta daerah lain di sekitarnya namun konon proyek tersebut terhenti terutama dengan dicanangkannya Gombong sebagai kawasan Eko Karst pada Bulan desember 2004 lalu.

Survai fauna gua belum banyak dilakukan, di Gua Petruk dilakukan inventarisasi Arthropoda oleh Suhardjono et al. 2001 diperoleh ada 20 jenis yang terdiri 5 jenis troglobit dan 5 jenis guanobite sisanya dalam katagori troglofil dan troglosen. Gua Petruk mempunyai keanekaragaman jenis paling tinggi terutama dengan ditemukannay beberapa jenis Collembola terutama jenis Cyphoderopsis sp. dan Dermaptera yang banyak ditemukan di permukaan guano (Xeniaria jacobsoni Burr). Kelompok Arachnida yang ditemukan adalah Stygophrynus sp. dan Pseudoscorpion spp.


 sumber https://cavefauna.wordpress.com/karst-areas-of-indonesia/gombong-selatan/

Jumat, 20 Juni 2014

FaktaTentang Kawasan Karst Gombong Selatan

Kamis, 19 Juni 2014

BUAYAN - Selain Kawasan Geologi Karangsambung, Kawasan Karst Gombong Selatan (KKGS) merupakan salah satu kekayaan alam yang dimiliki Kabupaten Kebumen.



Perbukitan kapur berupa karst itu sangat istimewa, karena proses terbentuknya terjadi ratusan ribu bahkan jutaan tahun silam.

Secara fisik di permukaan, kawasan karst di Gombong selatan terlihat kering dan gersang. Namun di bawah tanah banyak mengandung sumber air yang terus mengalir tiada henti dan penyimpan cadangan air.


Berikut beberapa fakta menarik tentang Kawasan Karst Gombong Selatan:

1. Kawasan Karst Gombong Selatan (KKGS), pada tahun 2004 ditetapkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai kawasan eko-karst.

2. Terdapat 122 gua bahkan 173 gua di Kawasan Karst Gombong Selatan (KKGS). Diantaranya Gua Pucung, Gua Jeblosan, dan Gua Candi sebagai sumber air bawah tanah.

3. Batuan penyusun Kawasan Karst Gombong Selatan (KKGS) merupakan bagian dari Formasi Kalipucang yang berumur miosen (11-25 juta tahun lalu).

4. Kawasan Karst Gombong Selatan (KKGS) memiliki panjang perbukitan kapur mencapai 8 km dan lebar 3 km dengan luasan mencapai lebih dari 40 km2 yang meliputi tiga kecamatan di pojok barat daya kebumen, yakni Kecamatan Ayah, Rowokele dan Buayan.

5. Terdapat air terjun setinggi 32 meter dibawah Kawasan Karst Gombong Selatan (KKGS), tepatnya di Goa Barat di desa Jatijajar, kecamatan Ayah.

6. Goa Petruk di Kawasan Karst Gombong Selatan (KKGS) termasuk dalam slah satu goa terdalam di dunia dengan panjang jelajah mencapai lebih dari 2 Km.

Tentu bukan hanya itu saja, masih banyak fungsi penting dari karst untuk masyarakat sekitar. Sebuah pabrik semen kini tengah menunggu Ijin akhir Usaha Pertambangan dari Pemerintah Kabupaten Kebumen untuk melakukan kegiatan eksplorasi di Kawasan Karst Gombong Selatan (KKGS).

Rencana aktivitas eksploitasi dalam skala besar nantinya dikhawatirkan bisa merubah bentang alam karst dan dayadukungnya. Hal ini menjadi ancaman serius karena bisa menghilangkan mata air yang akan mengakibatkan bencana kekeringan. Sejumlah peniliti dan komunitas pecinta gua di luar Kebumen sedang was was jika pemkab Kebumen mengijinkan. Lantas, bagaimana dengan warga sekitar ? [LintasKebumen©2014]

http://juniaminudin.blogspot.com/2014/06/faktatentang-kawasan-karst-gombong.html