Our social:

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Mei 2018

Nusantara Untuk Peradaban Dunia


Ahmad Samsyudin | 25 Mei 2018

* Untuk para peminat sejarah Nusantara




Berdasarkan kajian evolusi genetika manusia, Evolutionary tree of Human Y-Chromosome DNA (Y-DNA) jenis manusia yang tersisa di bumi berasal dari Nabi Nuh yang menjadi pangkal percabangan tiga keturunan Nabi Nuh yang selamat dari banjir besar yang terjadi sekitar 13.000 tahun silam, yaitu:

Yafet bin Nuh, kelompok timur yang mendiami Sunda Land (Paparan Sunda) yang menjadi asal muasal bangsa maritim dan agraris dunia. 

Sem bin Nuh, kelompok tengah yang menjadi asal muasal bangsa Yahudi dan kaum nomaden di dunia. 

Ham bin Nuh, kelompok barat yang mendiami daratan gersang Afrika.

Selepas banjir Nuh, Nusantara dihuni oleh anak cucu Yafet bin Nuh yang pernah mencapai peradaban tinggi selama ratusan tahun yang dikenal oleh Plato sebagai Peradaban Antlantik yang menghasilkan banyak emas dan perak. Istananya dikelilingi oleh tembok emas dan pagar dinding dari perak cemerlang dan megah. Peradabannya memukau dunia dengan pelabuhan yang memiliki kapal dengan perlengkapan lengkap. Peradaban Atlantis kemudian hancur diterjang banjir, gempa bumi dan gunung meletus yang terjadi pada tahun 9.600 SM.


Situs gunung Padang dan Sadahurip meninggalkan jejak peradaban Atlantik. Para ahli geolog memperkirakan Gunung Padang sesungguhnya bukan hanya gunung dengan tumpukan batu, tetapi Gedung Padrang dengan susunan batu yang disusun oleh manusia dengan kandungan besi yang sangat tinggi 40% dari bebatuan normal dengan usia 5.500 sampai 11.000 tahun lalu. Situs Gunung Padang menempati area seluas 900 meter persegi 10 kali luas candi Borobudur dan 3 kali tinggi Borobudur. Begitupun dengan situs Gunung Sadahurip yang merupakan piramida raksasa dengan prasasti berhuruf Lemurian.

Kalau ditelusuri fakta geologi tanah Para Hyangan, cekungan Bandung pada zaman dahulu adalah danau purba sejak yang membentang dari Nagrek di sebelah timur sampai Padalarang disebelah barat sekitar 60 km sedangjan dari arah utara keselatan sekitar 40 km yang membentuk sebuah mangkuk ditengah kurungan gunung. Cekungan mangkuk tersebut teryata adalah sebuah kaldera raksasa atau kawah purba dari Gunung Sunda Raksasa yang merupakan puncak tertinggi dari pegunungan Para Hyangan dengan ketinggian 12.525 meter. Ketika gunung ZHUNNDA meletus terjadi letusan super vulkanik yang setara ledakan puluhan nuklir yang meledak secara bersamaan.

Penduduk Atlantis kemudian berpencar keseluruh penjuru bumi dan menjadi leluhur bangsa-bangsa Polynesia di Pasifik, Asia Timur di Taiwan dan daratan China seperti ras Mongoloid dan Altai serta kebarat daratan utama Asia Tenggara yang menjadi leluhur bangsa India dan Persia. Teori DNA yang mengatakan bahwa penduduk Asia Tenggara, Filiphina, Malaysia dan Indonesia berasal dari Taiwan yang bermigrasi pada 4000 tahun yang lalu menjadi terbantahkan, justru penduduk Taiwan yang berasal dari Sunda Land dan bermigrasi ke Taiwan akibat banjir besar karena naiknya permukaan laut setinggi 500 kaki pada 14000- 7.000 tahun SM yang menenggelamkan Sunda Land menjadi selat Sunda, selat Bali, laut Jawa dan selat Malaka. Tenggelamnya Sunda Land menjadi penggerak utama "human diversity" keseluruh dunia dari tanah ibu pertiwi Sunda Land.


Setelah situasi di Sunda Land mulai cukup tenang, sekelompok kecil dari bangsa Sunda Land mulai "pulang kampung". Dan puncaknya mereka datang dalam jumlah besar pada tahun 2.500-1.500 SM yang kemudian dikenal sebagai bangsa Proto Melayu atau Melayu Tua. Kemudian pada tahun 300 SM datang dalam jumlah besar kelompok bangsa dari Asia Selatan (India) dan Asia Tengah yang dikenal sebagai Deutero Melayu atau Melayu Muda yang membawa pengaruh Hindustan ke Nusantara. 

Karenanya ekspedisi Yunani mencari tanah Atlantik, tanah nenek moyangnya dengan dipandu seseorang dari dinasti Pallawa berhenti di daerah Sunda dan mendirikan kerajaan Salakanagara dan Tarumanegara di daerah Jawa Barat.

Menurut naskah Wangsakerta, Aki Tirem yang merupakan sesepuh cikal bakal kerajaan Salaka negara, leluhurnya berasal dari Swarnabumi bagian Utara yang sebelumnya tinggal di Langkasungka India. Devawarman yang menjadi pendiri kerajaan Salakanegara dan merupakan leluhur raja-raja Sunda, menikah dengan putri Aki Tirem, Pohaci Larasati berasal dari Dinasti Pallawa India yang pulang kembali ke pangkuan ibu pertiwi di Sunda Land.


Kisah lain adalah Raja Nebukadnezar dari Babilonia (King of Babylon), sekitar 600 SM mengirimkan beberapa ekspedisi ke Timur dengan tujuan untuk mengambil pohon-pohon besar, tanaman merambat, serta benih-benih bunga pilihan untuk untuk ditanam di taman gantung Babylon. Taman gantung tersebut dibangun untuk mengobati kerinduan sang permaisuri Queen Amuhia (630-565 SM) yang merupakan Princess of Medes akan suasana di kampung halamannya di Sunda Land. Anak turun dari Raja Nebukadnezar dengan Ratu Amuhia nantinya seperti Darius, menjadi leluhur raja-raja Persia. Magada menjadi leluhur raja-raja India dan Anusyirwan Adil menjadi leluhur raja-raja Melayu.

Dalam manuskrip Yahudi Kuno, Nabi Sulaiman As ketika membangun kerajaan dan kuil Solomon pada tahun 950 SM mengambilkan banyak emas dari Kerajaan Timur Jauh yang dinamakan Ophir yang kemungkinan betada di Swarnadwipa (Pulau Emas). Bahkan menurut informasi Pusat Kerajaan Minang berada ditengah-tengah galian emas. Emas-emas yang dihasilkan kemudian diekspor dari sejumlah pelabuhan di Sumatra seperti Kampar, Indragiri, Pariaman, Tikus, Barus dan Pedir. Hal inilah yang menjadi sebab penyebutan Pulau Sumatra dengan Swarna Dwipa atau Pulau Emas. Pulau Sumatra yang masih terhubung dengan Sunda Land pada zaman dahulu menjadi tambang emas yang berlimpah untuk membangun istana dan peradaban Atlantis pada tempo dulu.

Sabtu, 02 Mei 2015

Gombong Speleologi Expedition 2014


Gua merupakan indikator yang penting dalam penelitian karst karena gua dapat menunjukkan tingkat karstifikasi. Gua-gua yang masih aktif aliran sungai bawah tanahnya memiliki potensi dan peran dalam hidrologi kawasan yang sangat penting. Gua juga merupakan hunian berbagai biota yang memiliki fungsi lingkungan yang sangat penting, misalnya kelelawar. Berbagai jenis kelelawar memiliki peran sebagai predator hama serangga dan tikus, penyerbuk, dan penyebar biji-bijian. Potensi gua lainnya adalah untuk wisata, baik wisata umum maupun wisata minat khusus.

Kawasan Karst Karangbolong/Gombong merupakan kawasan yang tersusun dari Formasi Kalipucang yang berumur Miosen (11 – 25 juta tahun yang lalu). Yang tersusun oleh batugamping terumbu, batugamping klastik, batulempung, serpih dan batupasir. Gejala karstifikasi ini meliputi kenampakan morfologi berupa bukit-bukit, lembah-lembah tertutup, mata air permanen serta bentukan lorong-lorong bawah tanah. Bentang alam Karst Gombong terbagi menjadi tiga kecamatan yaitu Kecamatan Buayan, Kecamatan Ayah dan Kecamatan Rowokele dengan luasan lebih kurang 4.894 hektar (Kementerian ESDM,2003).

Kawasan Karst Karangbolong/Gombong merupakan penelitian yang dilaksanakan secara berkelanjutan oleh Acintyacunyata Speleological Club (ASC) dari tahun 1993, dengan tujuan untuk mengumpulkan dan melengkapi data yang telah ada sebelumnya. Total sekitar 183 sebaran gua yang berhasil terdata (Januari 2015) di Kawasan Karst Karangbolong/ Gombong dengan keanekaragaman potensi yang ada.

GOMBONG SPELEOLOGY EXPEDITION 2014, diselenggarakan oleh Pengurus Acintyacunyata Speleological Club (ASC) berlokasi di Kawasan Karst Karangbolong/ Gombong, Kecamatan Buayan dan Ayah, Kabupaten Kebumen, Propinsi Jawa Tengah, pada tanggal 20 September s.d 05 Oktober 2014. Selain untuk meningkatkan kemampuan Calon Anggota Acintyacunyata Speleological Club (ASC) pelaksanaan kegiatan ini juga bertujuan untuk mendata potensi yang terkandung di gua-gua di Kawasan Karst Karang Bolong/ Karst Gombong, yang diantaranya adalah potensi air bawah tanah, potensi arkeologi, dan potensi ilmiah lainnya.

Hasil dari kegiatan GOMBONG SPELEOLOGY EXPEDITION diupayakan bukan sekedar penelitian hobi semata, namun berdasarkan studi literatur yang telah dipublikasikan dan dapat dipertanggungjawabkan isinya dalam batasan ilmu speleologi, dan juga nantinya dapat digunakan sebagai data pendukung dalam kaitannya perlindungan dan pelestarian kawasan kast, khususnya di kawasan karst Karangbolong/ Gombong. Adapun kegiatan tersebut terdiri dari :






https://ascindonesia.wordpress.com/2015/05/01/gombong-speleology-expedition-2014-bukan-sekedar-penelitian-hobi/?blogsub=confirming#subscribe-blog

Selasa, 14 April 2015

Industri Semen Ramah Lingkungan?

Kamis, 26 Maret 2015

Potret Kawasan Karst Indonesia

by speleopartner 
Sebaran pabrik semen di Pulau Jawa (diolah dari peta sebaran karst http://www.biota.org)


Indonesia adalah negeri yang diberkahi kekayaan alam melimpah baik yang ada di atas tanah maupun di bawah tanah. Kekayaan alam itu semestinya mensejahterakan rakyat dari generasi ke generasi. Salah satu kekayaan alam yang jarang disadari keberadaannya adalah Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK), yaitu kawasan perbukitan kapur yang telah mengalami proses pelarutan sedemikian rupa sehingga menunjukkan ciri-ciri fisik yang unik dan khas.

Fungsi utama kawasan karst bagi kehidupan manusia adalah kemampuannya menyerap air hujan, menyimpan dan mengeluarkannya sebagai mata air (akuifer air bersih). Jutaan meter kubik air hujan setiap tahun terserap dengan baik oleh KBAK. Di dunia, 15% luas daratan adalah kawasan bentang alam karst, di mana kawasan ini mencukupi 25% kebutuhan air bersih penduduk dunia (D.C Ford et al, 1988).

Fungsi lain kawasan karst adalah sebagai penyerap karbondioksida (CO2) di atmosfer. Dalam satu tahun Kawasan Bentang Alam Karst di dunia mampu menyerap 0,41 milyar metrik ton CO2 dari atmosfer, namun dalam proses karstifikasi akan melepaskan kembali 0.3 miliar metrik ton CO2, sehingga rata-rata Co2 yang terserap 0.11 miliar metrik ton (Liu & Zhao, 1999). Kawasan karst menjadi salah satu rantai penting dalam siklus karbon di dunia.

Goa yang banyak terdapat di kawasan, menjadi rumah bagi berbagai jenis fauna endemik yang berfungsi sebagai penyeimbang ekosistem. Salah satu fauna yang membawa dampak langsung bagi kehidupan manusia adalah kelelawar. Seekor kelelawar jenis pemakan serangga -memiliki berat tubuh rata-rata 17 gram- setiap malam mampu memakan serangga hingga seperempat berat tubuhnya (4,25 gram) = +/- 800 – 1200 ekor serangga (Wiantoro, 2006). Ribuan kelelawar yang tinggal dalam suatu goa diyakini menjadi predator utama serangga yang berpotensi menjadi hama pertanian.
Grafik perbandingan kondisi ketersediaan dan kebutuhan air vs kebutuhan dan ketersediaan semen Di Pulau Jawa

Grafik perbandingan kondisi ketersediaan dan kebutuhan air vs kebutuhan dan ketersediaan semen Di Pulau Jawa

Ancaman Terhadap Kawasan Bentang Alam Karst 
Industri ekstraktif batugamping yang menjadi penyusun bentang alam karst masih menjadi ancaman utama kawasan karst di dunia. Batugamping yang menyusun kawasan karst mengandung unsur karbonat (CaCo3) yang tinggi, tidak kurang dari 80%, kandungan karbonat dalam batugamping penyusun karst ada yang mencapai 95–100 %, seperti yang dijumpai pada di Karst Dinaric- Yugoslavia yang berumur antara 65-145 juta tahun lalu (Herak, 1972).
Unsur karbonat ini memiliki nilai ekonomis dan diminati oleh pelaku industri semen portland karena dianggap sebagai bahan dasar yang belum tergantikan hingga saat ini.Indonesia yang hanya memiliki 0.7% dari luas kawasan karst dunia (luas kawasan karst dunia 22 juta kilometer persegi menurut Liu & Zhao, 1999) menjadi tujuan utama investasi industri semen sejak pelarangan industri semen di beberapa negara maju di dunia seperti China (33% daratan China adalah kawasan karst). Alasan penutupan pabrik semen di China adalah efisiensi energi dan karena industri semen sebagai salah satu penyumbang emisi karbon dan sumber polutan udara terbesar selain industri baja.

Industri semen di Indonesia terkonsentrasi di Pulau Jawa yang notabene merupakan pulau terpadat di Indonesia. Beberapa indutri semen juga beroperasi di jantung kawasan karst di pulau Sulawesi dan Sumatera. Di beberapa kawasan, pendirian pabrik semen memicu konflik dengan masyarakat setempat. Penyebabnya adalah kawasan karst yang akan atau telah diambil batugampingnya oleh industri semen merupakan aset penting bagi masyarakat di sekitarnya yang mayoritas adalah petani. Mata air yang memancar dari perbukitan karst merupakan sumber kehidupan baik untuk memenuhi kebutuhan air bersih maupun untuk irigasi persawahan.Pulau Jawa sebagai representasi pengelolaan kawasan karst di Indonesia saat ini masih mengalami masalah serius tumpang tindihnya tata ruang. Perundangan yang ada belum sepenuhnya ditegakkan implementasinya oleh pemangku kekuasaan. 

Hal ini menjadi suar peringatan bagi para pegiat pelestarian karst di Indonesia untuk bersiap-siap menghimpun diri menjadi garda terdepan upaya perlindungan dan penyelamatan kawasan karst di wilayah lain di Indonesia. Cadangan yang sangat sedikit dan proses penciptaan yang memakan waktu ribuan tahun menjadi alasan yang logis bagi para pihak untuk merubah pola pikir bahwa kawasan karst merupakan Sumber Daya Alam yang tak terbarukan, bukan sekedar bahan galian C sebagaimana yang berlaku selama ini.

Pengelolaan Kawasan Bentang Alam Karst
 
Saat ini, pengelolaan KBAK masih tumpah tindih karena tarik ulur kepentingan berbagai pihak. Secara fungsi, KBAK dilindungi oleh regulasi yang dikeluarkan oleh Pemerintah (PP Nomor 26 tahun 2008 tentang RTRW Nasional). Secara fisik KBAK diatur oleh regulasi dari Kementerian ESDM (Permen ESDM No.17 tahun 2012 tentang Penetapan KBAK).Namun prakteknya, KBAK sering salah urus ditangan pemerintah daerah. Fakta bahwa sebagian besar KBAK berada di kawasan hutan yang menjadi tanggungjawab Kementerian Kehutanan dan PERHUTANI semakin memperumit pengelolaan KBAK. Akibatnya, penetapan KBAK sering tidak sesuai dengan data- data lapangan sehingga mengancam fungsi lindung yang telah ditetapkan oleh Pemerintah dan memicu konflik di banyak daerah. Konflik yang sering terjadi dipicu oleh benturan antara masyarakat yang menggantungkan kehidupannya pada fungsi ekologis KBAK (sebagai penyedia air dan lahan bercocok tanam) dengan investor yang diakomodasi pemerintah setempat.
 
Laju perusakan kawasan karst di Indonesia jauh lebih cepat dari upaya perlindungan yang dilakukan selama ini. Kawasan perbukitan batukapur yang memiliki potensi karst yang telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai KBAK baru meliputi 3 wilayah saja : KBAK Sukolilo, KBAK Gombong dan KBAK Gunugsewu. Padahal penelitian dari para ahli setidaknya di Pulau Jawa saja terdapat lebih dari 27 kawasan karst (berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Balaz. 1968).

Melihat semua fakta-fakta tentang KBAK ini, negara secepatnya perlu memiliki sebuah badan atau komisi yang secara khusus menangani permasalahan karst di Indonesia yang terdiri dari berbagai unsur yang mampu mempengaruhi, mengontrol dan mengevaluasi kebijakan-kebijakan yang diambil para pemangku kebijakan terkait pengelolaan kawasan bentang alam karst di Indonesia.Sebagai potensi sumber daya alam yang tak terbarui dan menjadi sandaran hidup jutaan orang di Indonesia, kawasan bentang alam karst layak untuk segera diurus sebagaimana mestinya. Jangan menunggu sampai kawasan bentang alam karst terakhir hilang dari peta Republik Indonesia! (A.B. Rodhial Falah)

https://speleoside.wordpress.com/2015/03/25/potret-kawasan-karst-indonesia/

Rabu, 10 Desember 2014

Gombong Selatan

Kawasan ini terkenal dengan bentukan “cockpit karst” mempunyai gua-gua yang panjang seperti Gua Barat, Gua Jatijajar, Gua Liah, Gua Petruk dan lain-lainnya. Batuan gamping yang berumur Miosen bersifat keras, kompak dan sebafian berlapisan, termasuk jenis murni yang berwarna putih susu samapai kuning pucat. Panjang perbukitan kapur ini mencapai 8 km dan lebar 3 kmdengan luasan mencapai 40 km2.
” Ketinggian mutlak perbukitan karst di Gombong selatan berkisar 300-400 sedangkan ketinggian relatif hanya berkisar 50-150 m. Umur batuan karstnya berasal dari endapan berumur Miosen dengan permulaan karstifikasi pada akhir pliosen (awal Pleistosen). ”
(Balazs, 1968)
Ancaman kawasan ini adalah aktivitas penambangan kapur oleh Semen Gombong yang akan mengancam sumber air bagi kawasan Kebumen dan Cilacap serta daerah lain di sekitarnya namun konon proyek tersebut terhenti terutama dengan dicanangkannya Gombong sebagai kawasan Eko Karst pada Bulan desember 2004 lalu.

Survai fauna gua belum banyak dilakukan, di Gua Petruk dilakukan inventarisasi Arthropoda oleh Suhardjono et al. 2001 diperoleh ada 20 jenis yang terdiri 5 jenis troglobit dan 5 jenis guanobite sisanya dalam katagori troglofil dan troglosen. Gua Petruk mempunyai keanekaragaman jenis paling tinggi terutama dengan ditemukannay beberapa jenis Collembola terutama jenis Cyphoderopsis sp. dan Dermaptera yang banyak ditemukan di permukaan guano (Xeniaria jacobsoni Burr). Kelompok Arachnida yang ditemukan adalah Stygophrynus sp. dan Pseudoscorpion spp.


 sumber https://cavefauna.wordpress.com/karst-areas-of-indonesia/gombong-selatan/

Jumat, 20 Juni 2014

FaktaTentang Kawasan Karst Gombong Selatan

Kamis, 19 Juni 2014

BUAYAN - Selain Kawasan Geologi Karangsambung, Kawasan Karst Gombong Selatan (KKGS) merupakan salah satu kekayaan alam yang dimiliki Kabupaten Kebumen.



Perbukitan kapur berupa karst itu sangat istimewa, karena proses terbentuknya terjadi ratusan ribu bahkan jutaan tahun silam.

Secara fisik di permukaan, kawasan karst di Gombong selatan terlihat kering dan gersang. Namun di bawah tanah banyak mengandung sumber air yang terus mengalir tiada henti dan penyimpan cadangan air.


Berikut beberapa fakta menarik tentang Kawasan Karst Gombong Selatan:

1. Kawasan Karst Gombong Selatan (KKGS), pada tahun 2004 ditetapkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai kawasan eko-karst.

2. Terdapat 122 gua bahkan 173 gua di Kawasan Karst Gombong Selatan (KKGS). Diantaranya Gua Pucung, Gua Jeblosan, dan Gua Candi sebagai sumber air bawah tanah.

3. Batuan penyusun Kawasan Karst Gombong Selatan (KKGS) merupakan bagian dari Formasi Kalipucang yang berumur miosen (11-25 juta tahun lalu).

4. Kawasan Karst Gombong Selatan (KKGS) memiliki panjang perbukitan kapur mencapai 8 km dan lebar 3 km dengan luasan mencapai lebih dari 40 km2 yang meliputi tiga kecamatan di pojok barat daya kebumen, yakni Kecamatan Ayah, Rowokele dan Buayan.

5. Terdapat air terjun setinggi 32 meter dibawah Kawasan Karst Gombong Selatan (KKGS), tepatnya di Goa Barat di desa Jatijajar, kecamatan Ayah.

6. Goa Petruk di Kawasan Karst Gombong Selatan (KKGS) termasuk dalam slah satu goa terdalam di dunia dengan panjang jelajah mencapai lebih dari 2 Km.

Tentu bukan hanya itu saja, masih banyak fungsi penting dari karst untuk masyarakat sekitar. Sebuah pabrik semen kini tengah menunggu Ijin akhir Usaha Pertambangan dari Pemerintah Kabupaten Kebumen untuk melakukan kegiatan eksplorasi di Kawasan Karst Gombong Selatan (KKGS).

Rencana aktivitas eksploitasi dalam skala besar nantinya dikhawatirkan bisa merubah bentang alam karst dan dayadukungnya. Hal ini menjadi ancaman serius karena bisa menghilangkan mata air yang akan mengakibatkan bencana kekeringan. Sejumlah peniliti dan komunitas pecinta gua di luar Kebumen sedang was was jika pemkab Kebumen mengijinkan. Lantas, bagaimana dengan warga sekitar ? [LintasKebumen©2014]

http://juniaminudin.blogspot.com/2014/06/faktatentang-kawasan-karst-gombong.html

Selasa, 09 Juli 2013

Menyelamatkan Karst Gombong

Karst Karangbolong atau Karst Gombong Selatan memiliki fungsi sebagai penangkap, penyimpan dan penyuplai air bersih bagi masyarakat yang hidup di sekitarnya (Foto. A.B. Rodhial falah)

PRAJURIT tua tak pernah mati, mereka hanya memudar hilang”. Kalimat Jenderal Mac Arthur melintas di ingatan saat membaca laporan Otto Soemarwoto, Kajian Pro-Kontra Rencana Pembangunan Pabrik PT Semen Gombong (April 2003).

Sebuah perusahaan berencana membangun pabrik semen di Desa Nagaraji, Gombong Selatan, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah. Bahan baku semen berupa batu gamping terletak di kawasan gua karst Gombong Selatan. Kebanyakan penduduk daerah rendah pendapatannya. Pengusaha beranggapan pembangunan pabrik bermanfaat bagi daerah karena mengurangi kemiskinan dan menaikkan pendapatan asli daerah. Tetapi, pembangunan pabrik semen juga merusak gua karst Gombong, merusak habitat tempat bersarang burung walet dan kelelawar serta menghancurkan fungsinya sebagai “waduk alam” penyimpan air.

Muncul persoalan yang mempertentangkan “pembangunan semen” melawan “pelestarian gua karst Gombong”. Pengusaha telah mengantongi izin pemerintah (1996) tentang “Analisis mengenai Dampak Lingkungan” (amdal) sehingga syarat legal dipenuhi. Namun, banyak pihak menentang pembangunan pabrik semen yang dianggap bakal merusak lingkungan kawasan karst Gombong.

DALAM laporannya Bung Otto berpendirian soal pro-kontra pembangunan pabrik semen harus dilihat dari kaca mata “Pembangunan Berkelanjutan”. Sejak Presiden Soeharto menyepakati keputusan “Konferensi Tingkat Tinggi Bumi” di Rio, Brasil, 1992, Indonesia menganut kebijakan pembangunan berkelanjutan yang intrinsik masuk dalam pembangunan nasional rumusan Bappenas.

Bila “pembangunan konvensional” menempuh hanya satu jalur pembangunan ekonomi, “pembangunan berkelanjutan” merajut tiga unsur yang menyatu, yakni sustainabilitas ekonomi, sustainabilitas sosial, dan sustainabilitas ekologi-lingkungan. Agar usaha ekonomi berlanjut, perlu diperhitungkan dampaknya pada keberlanjutan kehidupan masyarakat sosial yang ditopang keberlanjutan fungsi ekologi-lingkungan sebagai sistem penunjang kehidupan makhluk alam.

Ekonomi tidak bisa berlanjut di tengah masyarakat yang menderita dampak negatif pembangunan berupa penggusuran penduduk, marginalisasi penduduk setempat karena tidak berpendidikan dan karena miskin tidak punya jaminan meminjam kredit perbankan. Pembangunan ekonomi serta sosial tidak bisa berlanjut bila sistem ekologi-lingkungan yang mendukung kehidupan alami amburadul, rusak, dan cemar.

Dalam mengkaji pro dan kontra pembangunan pabrik semen Gombong ini, Bung Otto memakai tolok ukur pembangunan berkelanjutan yang mencakup ketiga unsur ekonomi, sosial, dan ekologi-lingkungan. Unsur ekonomi mencakup ikhtiar memberantas kemiskinan, membuka lapangan kerja, mengembangkan eko-wisata. Unsur sosial memuat penanganan masalah gender dan masalah sosial akibat penutupan penambangan semen setelah bahan bakunya habis. Unsur ekologi-lingkungan meliputi konservasi karst Gombong Selatan, melestarikan volume dan kualitas air, menggunakan proses dan teknik produksi yang memperkecil pencemaran udara yang berdampak pada pemanasan global, dan mengembangkan produksi semen dengan cara-cara yang ramah lingkungan.

Unsur ekonomi, sosial, dan ekologi-lingkungan seyogianya terungkap melalui kajian amdal yang program penanggulangannya termaktub dalam “Rencana Kelola Lingkungan” (RKL) maupun “Rencana Pemantauan Lingkungan” (RPL). Kajian kritis terhadap hasil amdal yang disetujui Pemerintah tahun 1996 dan diuji di lapangan menunjukkan berbagai kelemahan prinsipiil. Yang paling serius adalah tak digunakannya pendekatan ekosistem yang mencakup ruang lingkup kawasan karst ini.

Dari sudut sustainabilitas ekonomi, kehadiran pabrik semen tidak otomatis mengurangi kemiskinan dan membuka lapangan kerja penduduk setempat karena rendahnya tingkat pendidikan rata-rata penduduk lokal sehingga mudah termarginalisasi oleh pendatang. Hal-hal ini tidak digubris RKL yang disusun.

Dari sudut sustainabilitas sosial, rendahnya indeks kesempatan perempuan masuk angkatan kerja dan menduduki jabatan kunci menunjukkan adanya diskriminasi perempuan di kabupaten Kebumen, sehingga dibutuhkan upaya khusus guna menanggapinya. Namun, hal ini tidak disinggung dalam RKL.

Dari sudut sustainabilitas ekologi-lingkungan tampak kelemahan pokok hasil amdal yang mengabaikan fungsi karst Gombong Selatan sebagai “waduk alam” yang amat penting karena mampu menyimpan air di Jawa Tengah selatan yang dikenal kering. Kawasan karst bagai busa yang menampung dan menyimpan air hujan untuk dialirkan dalam danau, air di bawah kawasan karst, dan sungai sepanjang tahun.

Akibat tekanan pertambahan penduduk pada dekade mendatang, Jawa akan menjadi “pulau kota” (tahun 2020). Dan air tawar menjadi bahan paling langka sehingga kemampuan alam melestarikan sumber air menjadi amat penting. “Sumbangan” Indonesia pada pencemaran udara global sudah amat besar. Jika di masa depan Indonesia masih tidak aktif mengendalikan emisi karbon dari kebakaran hutan dan pembakaran minyak bumi untuk energi, transportasi, dan industri, maka “sumbangan” Indonesia kian berarti bagi pencemaran udara.

Hal ini meninggikan suhu global sehingga menaikkan permukaan laut yang bakal menenggelamkan pulau-pulau kecil di Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Ia juga mengubah iklim kawasan Asia. Kenaikan suhu bumi juga memperbesar pengeringan air permukaan dan berpengaruh buruk pada pola pertanian kita yang masih banyak mengandalkan aliran air permukaan daratan. Semua ini menaikkan nilai air bawah tanah yang dihasilkan kawasan karst Gombong Selatan.

TEKNOLOGI produksi semen di Indonesia boros energi dan menimbulkan emisi CO2 yang menyumbang pada kenaikkan suhu global. Kini, para produsen semen berbagai negara, antara lain Jepang, sudah menerapkan pola produksi blended cement yang bisa menurunkan separuh emisi CO2. Tidak tampak dalam RKL rencana mengurangi emisi CO2. Khusus dalam menanggapi dampak “penutupan penambangan bahan baku semen” ketika bahan baku habis, tidak ada dalam RKL usaha memelihara keberlanjutan pembangunan kawasan ini.
Sehingga Bung Otto menyimpulkan, suatu pola pembangunan berkelanjutan yang secara sadar memuat unsur keberlanjutan ekonomi, sosial, dan ekologi-lingkungan tidak bisa menerima kehadiran pembangunan pabrik semen di Gombong Selatan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Pola pembangunan berkelanjutan yang didambakan perlu tertuang dalam rencana induk pengembangan kawasan karst Gombong.

Rencana ini perlu disusun sebagai hasil musyawarah yang melibatkan semua pemuka masyarakat Kebumen di tempat dan di perantauan dan kita semua yang sadar akan kekhasan fungsi karst serta ancaman kelangkaan air kelak. Rencana ini perlu difokuskan pada penyelamatan kawasan karst Gombong yang sekaligus menjadi sentra penggerak pembangunan kawasan dan mencakup lima bidang kegiatan.

Pertama, pengembangan pariwisata seperti wisata gua, wisata bahari, dan eko-wisata yang didasarkan prinsip “pembangunan oleh masyarakat”. Bentuk wisata berupa menelusuri gua, berjalan-kaki, berkuda, dan bersepeda. Penginapan berupa “inap dan sarapan”, home-stay mengutamakan rumah-rumah rakyat bertoilet bersih serta dihindarinya pengembangan hotel berbintang.

Kedua, agro-perhutanan, mengembangkan agro-ekosistem terpadu dengan struktur tajuk bertingkat yang mencakup tumbuhan, hewan ternak, dan ikan. Sistem dibangun atas dasar pencagaran terintegrasi bermuatan kearifan ekologi penduduk.

Ketiga, pengembangan laboratorium geologi mencakup ilmu speleologi, hidrologi, bio-speleologi, dan sebagainya untuk kawasan alam tropis dan bekerja sama dalam jaringan lembaga ilmu pengetahuan Karangsambung, Gunungkidul, Wonogiri, dan Pacitan.

Keempat, pelestarian dan pembudidayaan burung walet yang melibatkan masyarakat serta pakar burung walet sebagai stakeholders.

Kelima, pengembangan energi-terbarukan berupa mikroair, solar-matahari, angin, biomassa yang terdesentralisasi sehingga menunjang pembangunan di atas.

Dengan lima pokok Rencana Induk ini, dari kawasan karst Gombong dapat ditembakkan “peluru” contoh pola pembangunan berkelanjutan yang tidak lagi mempertentangkan pembangunan ekonomi dengan lingkungan tetapi menyatu dan terpusat meningkatkan kesejahteraan rakyat kecil. Prajurit tua memang tak pernah mati. Mereka hanya melepaskan tembakan jika perlu. 

(reposting atas seijin admin https://www.facebook.com/groups/138821779543097)

Rabu, 03 Oktober 2012

Kawasan karst Gombong selatan


Tuesday, 2 October 2012

Kawasan karst Gombong selatan terletak di kabupaten kebumen, jawa tengah termasuk dalam rangkaian Pegunungan Serayu Selatan dengan kondisi geologi menarik. Pada kawasan ini didapatkan potensi sumberdaya mineral berupa batugamping, kalsit, andesit, fosfat, mangan, tras, bentonit serta cebakan emas. Keterdapatan potensi sumber daya mineral menjadikan kawasan ini menarik banyak pihak untuk melakukan eksploitasi. 

Potensi batugamping, mangaan dan fosfat banyak diburu inverstor. Berdasarkan Kepmen ESDM No. 961.K/40/MEM/2003 kawasan ini telah ditetapkan sebagai Kawasan Lindung karena mempunyai fenomena alam yang unik dan langka serta mempunyai nilai penting bagi kehidupan dan ekosistim. Pada kawasan ini telah dibuat tata ruang kawasan yang mencakup 3 zone berupa kawasan karst Kelas I, II dan III. Karst kelas I mencakup sekitar 75 persen luas kawasan yang harus terbebas dari aktifitas penambangan dan budidaya. 

Aktivitas penambangan andesit, batugamping, kalsit, fosfat serta sebagian besar sebaran potensi sumberdaya mineral berada pada kawasan karst kelas I. Untuk itulah perlu dilakukan kajian pengelolaan sehingga fungsi kawasan lindung dapat berjalan. 

Kawasan karst Gombong Selatan semakin rusak akibat beban yang berat terutama dari penambangan oleh masyarakat di sekitarnya sebagai satu-satunya mata pencaharian yang berisiko tinggi dan merusak ekosistem karst sebagai sumber mata air, keanekaragaman hayati, laboratorium alam ilmu pengetahuan dan lain-lain. Di samping itu pembakaran kapur hasil penambangan juga dapat menimbulkan asap tebal yang mengganggu kesehatan lingkungan menyebabkan sesak napas, penyakit inspeksi saluran penapasan atas (ISPA), mata pedih, penyakit paru-paru, stres dan lain-lain.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, perlu pelestarian fungsi lingkungan kawasan karst, adanya pembekalan mengenai renovasi kawasan karst, pemberdayaan dan pengkaderan lingkungan bagi masyarakat penambang yang bertempat tinggal di sekitar kawasan karst Gombong Selatan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menumbuhkan kesadaran, pemahaman, mencari alternatif alih profesi serta membangun kemandirian dan inisiatif masyarakat sekitar akan arti pentingnya kawasan karst bagi aspek lingkungan dan kehidupan. 

sumber http://jurnal-sejarah.blogspot.com/2012/10/kawasan-karst-gombong-selatan.html

Jumat, 01 Juli 2011

Dominasi Modal Asing


Jumat, 1 Juli 2011 | 1:50 WIB


Sejumlah media arus utama telah mengangkat soal dominasi modal asing dalam perekonomian Indonesia. Sepanjang yang kami ketahui, apa yang disampaikan oleh media arus utama itu bukanlah hal yang baru, tetapi sudah seringkali disuarakan oleh kelompok-kelompok kritis dan kalangan oposisi.

Dominasi modal asing sebetulnya bukan cuma mengkhawatirkan, tetapi sekaligus telah membawa perekonomian nasional dalam ‘situasi genting’. 

Sebab, mengutip perkataan Bung Karno 81 tahun yang lalu, bahwa ‘raksasa biasa yang dulu berjengkelitan di atas pada kerezekian Indonesia, kini sudah menjadi raksasa Rahwana-Dasamuka yang bermulut sepuluh’.

Dominasi modal asing itu dapat dilihat pada tiga lapangan:  
pertama, menguasai perbankan nasional; 
kedua, mendominasi investasi di Indonesia; 
ketiga, menguasai bursa saham di Indonesia. Dengan menguasai tiga lapangan ekonomi yang sangat penting itu, maka modal asing sebetulnya sudah ‘mencekik’ leher perekonomian nasional.

Perdebatan soal perlu dan tidaknya modal asing hampir bersamaan dengan pembicaraan soal lahirnya nation baru bernama Indonesia. Bung Karno sudah mengulas soal modal asing itu dalam tulisan-tulisannya sejak tahun 1930-an. Sejak awal, di kalangan republik sendiri, ada pihak-pihak yang menganggap modal asing sangat penting untuk mendorong ekonomi nasional Indonesia.

Karena modal nasional atau milik bangsa Indonesia masih sedikit, maka modal asing diperbolehkan untuk membangun kepentingannya di Indonesia.
Mohammad Hatta, Wakil Presiden Indonesia yang pertama, pernah berkata: 

“Soal kapital menjadi halangan besar untuk memajukan industrialisasi di Indonesia. Rakyat sendiri tidak mempunyai kapital. Kalau industrialisasi mau berarti sebagai jalan untuk memakmurkan rakyat, perkataan-perkataan kemakmuran rakyat (cetak tebal, red) mestilah kapitalnya datang dari pihak rakyat atau pemerintah. Karena, kalau kapital harus didatangkan dari luar, tampuk produksi terpegang oleh orang luaran.

Dan, dengan jalan itu, kata Mohammad Hatta, industrialisasi tidak akan berjalan di Indonesia, karena modal asing hanya membangun pabrik menurut kepentingannya sendiri atau membangun pabrik pada sektor-sektor yang menjanjikan keuntungan berlebih.

Dan, memang betul apa yang dikatakan Hatta, sudah 60 tahun lebih modal asing mengambil peranan dalam perekonomian sejak Indonesia merdeka, industri yang terbangun masih sangat sedikit.

Sebaliknya, jika kita teliti lagi dengan baik, keberadaan modal asing itu justru membawa tiga malapetaka: merampok semua kekayaan alam bangsa kita, mengangkut keuntungan besar sekali dari bumi kita, dan menciptakan kemiskinan dan ancaman kerusakan lingkungan yang sangat parah.

Akibat dari penguasaan asing itu, sebagaimana diakui oleh Burhanuddin Abdullah, mantan Gubernur Bank Indonesia, ‘rakyat Indonesia hanya menikmati 10% dari keuntungan ekonomi, sedangkan 90%nya dibawa asing keluar.’

Kita boleh percaya atau tidak dengan apa yang dikatakan oleh Burhanuddin Abdullah. Tetapi, apa yang tak terbantahkan, bahwa kita bangsa yang punya kekayaan alam yang melimpah dan sumber daya manusia yang besar, tetapi kenyataannya sebagian besar rakyat kita hidup sengsara.

Selain itu, supaya modal asing itu bisa berkembang dan mencapai tujuan-tujuannya, maka mereka pun mengajukan syarat-syarat: jaminan keamanan, penyediaan tenaga kerja berupah rendah, stabilitas ekonomi, kemudahan transfer modal dan keuntungan, dan keringanan pajak.

Dengan keberadaan syarat-syarat itu, maka modal asing bebas menggali keuntungan sebesar-besarnya di bumi Indonesia, sedangkan kehidupan rakyat dan ekonomi nasional menjadi tergerus karenanya. Beberapa dampak yang terlihat, antara lain:  
Pertama, perampokan kekayaan alam dan cabang-cabang produksi yang penting menyebabkan—meminjam istilah Bung Karno—‘pengeringan terhadap rakyat Indonesia’.  
Kedua, karena modal asing memerlukan tanah, pembangunan infrastruktur pendukung, dan jaminan keamanan, maka sering terjadi perampasan tanah, penggusuran, dan represi atau penindasan terhadap rakyat.

Sumber Artikel: BerdikariOnline 

Sabtu, 20 Desember 2008

Tirakat Suran

Pagi saat postingan ini dibuat, tamu saya, mas Guru, baru pamìt pulang..
"Ini lèk-lèkan malem Sura beneran", katanya.
Iya. Lha wong sampé jam 04 lebih, kami masih jaga. Sore tadi sampai tengah malam, saat gerimis, mas Guru baru pulang dari mendatangi undangan sarasehan budaya di komunitas mata-baca 'al-Furqon' desa Kembaran.
Tak banyak diceritakan bagaimana sarasehan budaya itu. Kami lebih intens ngomong soal-soal keseharian menurut bacaan masing-masing. Sampai kemudian topik kami menyoal situs Midangan.
Kabarnya, saat 'malem suro' begini, banyak orang tirakat. Pada umumnya masyarakat tradisional kita memang gemar laku tirakat itu.

Selasa, 07 Juni 2005

Penelusuran Potensi Arkeologis di Kawasan Karst Gombong Selatan

Anggraeni | Staf Pengajar Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta



Foto 1. Perbukitan karst di Gombong Selatan (Foto: Leophotography)
 


ABSTRACT



The archaeological value of Gombong region, especially for the karsts
area, has never been recognized before. In contrast, a long term research project done in the karsts area of Pegunungan Seribu, 60 km to the east of Gombong, has recovered a huge amount of archaeological data. By conducting surface surveys focused on caves followed by observation on cave morphology and analysis of surface finds, the archaeological value of the karsts area of Gombong can be acknowledged. The result is, two of seven caves observed have positive indications of habitation. Similarity between type and technology of stone and bone artifacts of Gombong with the compared area can be seen in some degree. So, as can be proved by the existence of stone and bone artifacts in Jatijajar and Banteng caves, it can be concluded that the artifact productions and technology of both areas were at the same level as those at Pegunungan Seribu.


Keywords: karst area-archeological data - artifacts - cave - morphology - same level

Pendahuluan

Penelitian arkeologis, khususnya penelitian prasejarah, jarang dilakukan di wilayah selatan Jawa Tengah. Pada beberapa penelitian terdahulu, sejumlah artefak batu Paleolitik pernah ditemukan di beberapa aliran sungai di kawasan Pegunungan Serayu Selatan yang tercakup   dalam wilayah administratif Kecamatan Gombong. Namun demikian, secara kuantitas temuan hasil penelitian tersebut dipandang sangat sedikit sehingga tidak menjadi prioritas untuk penelitian-penelitian prasejarah.

Di lain pihak, secara geologis di wilayah selatan Jawa Tengah juga terdapat kawasan karst yang memiliki persamaan sejarah dengan kawasan Pegunungan Seribu. Kawasan-kawasan karst tersebut secara keseluruhan termasuk dalam wilayah Pegunungan Selatan Jawa (Bemmelen, 1970:29, 546-547). Kawasan karst Pegunungan Seribu telah diketahui memiliki banyak gua yang sebagian ideal sebagai tempat bernaung.
Penelitian arkeologis yang pernah dilakukan di gua-gua tersebut menghasilkan temuan dalam jumlah banyak, baik berupa artefak, ekofak, maupun fitur, yang merupakan bukti adanya penghunian dan eksploitasi lingkungan di kawasan tersebut, sejak dari kala Plestosen hingga Holosen. Berdasarkan informasi yang diperoleh, di kawasan karst Gombong Selatan juga terdapat sejumlah gua, namun belum pernah diteliti secara arkeologis.

Persamaan riwayat geologis dan sumberdaya lingkungan sangat mendukung terjadinya bentuk adaptasi yang serupa (Bartstra, 1978:64-65) atau bahkan merupakan bagian wilayah jelajah komunitas-komunitas yang sama dengan wilayah timur (Pegunungan Seribu) mengingat kawasan-kawasan tersebut saling berhubungan. 
Oleh karena itu, tulisan ini akan difokuskan pada pembahasan tentang kemungkinan adanya penghunian prasejarah di kawasan karst Gombong Selatan dan tipe temuan artefaktualnya. Harapannya potensi arkeologis kawasan karst Gombong Selatan yang selama ini kurang mendapat perhatian akan dapat diketahui.


Temuan Arkeologis di Kawasan Pegunungan Serayu Selatan

Sejauh ini penelitian arkeologis yang dilakukan di wilayah Gombong masih terbatas pada penelusuran sungai-sungai purba yang mengalir di kawasan Pegunungan Serayu Selatan. Penelusuran sungai-sungai purba dilakukan mengingat sejauh ini temuan arkeologis banyak diperoleh baik di tebing maupun di aliran sungai-sungai semacam itu.

Penemuan von Koenigswald pada tahun 1935 yang berupa artefak batu paleolitik di aliran-aliran sungai di wilayah Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan yang kemudian terkenal dengan istilah alat batu Pacitanian, telah mendorong dilakukan penelitian-penelitian yang serupa. Penemuan alat batu Pacitanian telah membuka wawasan para peneliti yang kebanyakan adalah bangsa Eropa bahwa penghunian Pulau Jawa telah berlangsung ribuan tahun yang lalu.

Sampai saat ini penentuan kronologi alat batu Pacitan masih menjadi bahan perdebatan. Sebagian ahli memperkirakan bahwa alat-alat tersebut dibuat oleh manusia Jawa (Homo erectus) pada Kala Plestosen, namun ahli lain seperti G.J. Bartstra (1984:174) berpendapat bahwa umur alat batu Pacitanian tidak lebih dari 50.000 tahun.

Houbolt yang melakukan penelusuran sungai di daerah Gombong pada tahun 1939 melaporkan bahwa beberapa artefak batu yang mirip dengan artefak batu Paleolitik dari Pacitan telah ditemukan di Kedung Bulus, 4 km di sebelah timur laut Gombong (Soejono, 1984:99).

Laporan tersebut ditindaklanjuti dengan penelitian oleh Basoeki pada tahun 1959. Dalam penelitian tersebut juga ditemukan sejumlah artefak batu di dasar Sungai Kenteng yang terletak di sisi selatan barisan Pegunungan Serayu Selatan (Soejono, 1984:99).

Basoeki dan Bartstra kemudian melanjutkan penelitian di wilayah tersebut pada tahun 1977, melalui kerjasama antara Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional dengan Biologisch-Archaeologisch Instituut Groningen (Negeri Belanda) (Bartstra, 1978).
Dalam penelitian tersebut diperoleh alat batu Paleolitik tipe perimbas dan penetak di aliran sungai yang sama dengan penelitian sebelumnya, namun lebih ke arah hulu, tepatnya di Desa Semali (Soejono, 1984:99).

Sungai-sungai purba yang ada di wilayah Gombong berkaitan erat dengan sejarah geologi yang membentuk Pulau Jawa pada zaman Tersier (Asikin dkk, 1992:5). Dari sungai-sungai tersebut, selain didapatkan sumber air, juga diperoleh bahan batuan yang memungkinkan manusia untuk mengubahnya menjadi artefak. Jenis batuan yang tersedia di wilayah Gombong antara lain meliputi komponen basalt, rijang, dan andesit.

Ketersediaan sumber bahan yang melimpah, tetapi tidak sebanding dengan jumlah temuan arkeologis, telah menimbulkan tanda tanya besar. Kelangkaan temuan artefak batu tersebut mendorong Aris Budi Prasetya untuk melakukan penelitian dalam rangka penulisan skripsi pada tahun 1992-1994.

Dalam survey yang dilakukannya di daerah aliran Sungai Kenteng, yang meliputi Desa Kenteng, Semali, dan Kedung Bulus, 61 artefak batu Paleolitik
telah ditemukan. Artefak tersebut terdiri atas artefak batu masif seperti kapak perimbas, kapak penetak dan artefak batu nonmasif atau serpih (Prasetya, 1995:35-35).

Berdasarkan ciri-ciri yang ada pada artefak batu dari Gombong,  Prasetya menyimpulkan bahwa artefak-artefak tersebut mirip dengan artefak batu dari Pacitan. Perbedaannya terletak pada jenis bahan batuan yang digunakan; artefak batu dari Gombong dibuat dengan batuan yang lebih bervariasi (Prasetya, 1995:73).

Ahmad Rosyadi Widayat juga tertarik dengan kelangkaan artefak batu di wilayah Pegunungan Serayu Selatan untuk penulisan skripsi. Dalam penelitian tersebut Widayat tidak hanya melakukan survei untuk mengetahui sebaran artefak batu Paleolitik, tetapi juga berusaha mengamati faktor-faktor yang mempengaruhi keberadaan artefak-artefak tersebut.

Dari hasil survei yang dilakukan di daerah aliran Sungai Kedungmacan, Sungai Karanganyar, dan Sungai Luk-Ulo, baik di dasar, tebing, maupun daerah sekitar sungai dan arah hulu, telah didapatkan 22 artefak batu Paleolitik (Widayat, 2002:47). Hasil penelitian tersebut memperkuat dugaan bahwa di kawasan Pegunungan Serayu Selatan juga terdapat tradisi pembuatan artefak batu Paleolitik. Adanya temuan-temuan tersebut, meskipun jumlahnya tidak banyak, memperluas sebaran artefak batu Paleolitik di wilayah Gombong.

Potensi arkeologis di wilayah ini, selain ditandai dengan keberadaan artefak batu Paleolitik, juga didukung dengan keberadaan sungai-sungai purba dan melimpahnya jenis batuan yang dapat digunakan untuk membuat alat (Asikin dkk. 1992:5, 9-10).
Disamping itu ketersediaan sumberdaya hayati yang memungkinkan manusia untuk melakukan perburuan dan mengumpul makanan tentu juga menjadi faktor yang penting untuk dipertimbangkan (Widayat, 2002:114).

Dengan tersedianya sumberdaya lingkungan baik sumberdaya hayati maupun nonhayati mengindikasikan bahwa lingkungan tersebut layak untuk dihuni meskipun dalam waktu sebentar (Widayat, 2002:113).

Fenomena tentang kelangkaan temuan artefak batu Paleolitik di kawasan Pegunungan Serayu Selatan sementara ini diduga dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor alam dan manusia. Faktor alam berupa besarnya aliran sungai yang dapat menyebabkan proses transformasi artefak secara alami, sedangkan faktor manusia berupa aktivitas penambangan pasir dan batu yang dapat merusak keberadaan data arkeologi (Widayat, 2002:114).

Di antara batu-batu yang diambil dari tepian sungai dan  kemudian dipecah hingga mencapai ukuran tertentu, terdapat sejumlah artefak batu yang merupakan data penting bagi arkeologi.

Gua-Gua Karst di Gombong Selatan

Di samping Pegunungan Serayu Selatan yang dialiri sungai-sungai purba yang besar, di wilayah Gombong juga terdapat kawasan perbukitan karst, yang secara geologis dikenal sebagai kawasan karst Gombong Selatan. Kawasan ini, sebagaimana kawasan karst Pegunungan Seribu, merupakan bagian dari Pegunungan Selatan yang membentang di bagian selatan Jawa.

Bentangalam karst Gombong Selatan merupakan kegelkarst, yaitu bentang alam yang meliputi bukit-bukit kerucut yang berlereng terjal dengan lekuk-lekuk tertutup (cockpit) di sela-selanya (Samodra, 2001:49; lihat foto 1).

Foto 1. Perbukitan karst di Gombong Selatan (Foto: Didik Suhartono)

Menurut Samodra (2001:2) istilah karst mempunyai pengertian “suatu bentangalam, yang secara khusus berkembang pada batuan karbonat akibat proses karstifikasi” (pelarutan) “selama ruang dan waktu geologi yang tersedia”.
Kegiatan pelarutan pada batuan inilah yang terutama menyebabkan terbentuknya gua-gua karst.
Berdasarkan hasil penelitian gua-gua karst di kawasan Pegunungan Seribu bagian timur, yaitu di wilayah Kabupaten Pacitan, Wonogiri, dan Gunungkidul, diketahui adanya banyak temuan arkeologis dengan karakter berbeda dari temuan di aliran-aliran sungai.

Temuan–temuan tersebut pada umumnya berupa alat-alat dari serpihan batu, tulang, tanduk, atau cangkang kerang, disertai dengan bukti-bukti mengenai aktivitas produksi, berupa alat pemukul, bahan, dan limbah, serta bekas perapian, sisa makanan, dan rangka yang dikuburkan. Secara kese- luruhan, temuan-temuan tersebut telah menjadi bukti adanya kehidupan manusia di gua-gua di pesisir selatan Jawa pada akhir Kala Plestosen atau awal Kala Holosen sampai dengan pertengahan Holosen, yaitu sekitar 10.000 sampai dengan 5.000 tahun yang lampau.

Berkenaan dengan adanya temuan-temuan arkeologis di kawasan karst Pegunungan Seribu, dilakukan upaya penelusuran terhadap gua-gua di wilayah Gombong dengan tujuan menjajagi kemungkinan adanya tingkat kehidupan prasejarah yang sejajar. Upaya ini didasarkan pada keberadaan temuan artefak batu Paleolitik di aliran-aliran sungai purba dan adanya gua-gua di kawasan karst Gombong Selatan.

Berdasarkan peta rupa bumi lembar 1308-342 Rowokele dan lembar 1308-342 Karangbolong Edisi 1-1999, serta informasi penduduk setempat diketahui bahwa di kawasan perbukitan karst Gombong Selatan terdapat puluhan gua, baik gua vertical ( luweng) maupun horisontal. Pada saat ini, sebagian dari gua-gua di kawasan tersebut masih dialiri air.

Hasil survei arkeologis terhadap tujuh buah gua yang terletak di tepi selatan dan utara kawasan karst Gombong Selatan menunjukkan bahwa gua-gua tersebut pada umumnya terletak di lereng  atas suatu bukit. Gua-gua di lereng atas bukit meliputi Gua Jatijajar di Kecamatan Ayah, Gua Ka, Gua Terbang, Gua Payung, dan Gua Banteng di Kecamatan Buayan. Adapun dua gua yang lain terletak di dasar lembah, yaitu Gua Surupan di Desa Argopeni, Kecamatan Ayah dan Gua Sikidang di Desa Nogoraji, Kecamatan Buayan.

Bila ditinjau dari ukuran dan morfologinya, Gua Banteng di Desa Karangsari dan Gua Jatijajar di Desa Jatijajar  merupakan gua-gua besar yang ideal untuk dihuni. Di kaki bukit di bawah gua Jatijajar dan Gua Banteng terdapat sungai yang dapat menunjang kehidupan penghuni gua.

Gua Banteng memiliki dua buah rongga masuk atau mulut gua. Mulut gua utama berukuran tinggi 3 m dan lebar 7 m, dengan ruang gua yang luas, lantai yang kering, dan sirkulasi udara yang bagus. Sayangnya, sebagian besar lantai Gua Banteng saat ini kondisinya sudah rusak akibat aktivitas penambangan fosfat.

Gua besar lainnya, yaitu Gua Jatijajar, bahkan memiliki ruang yang jauh lebih besar. Mulut gua ini tingginya 9,7 m dengan lebar 10 m sehingga sirkulasi udara dan pencahayaan pada gua juga bagus. Sejak tahun 1975, kompleks Gua Jatijajar dimodifikasi secara besar-besaran untuk kepentingan pariwisata. Jalan mendaki bukit untuk menuju ke mulut gua sudah dibuat berundak. Di bagian dalam gua ditempatkan patung Kamandaka, sebagian
lantai gua disemen dan dibuatkan tangga serta jalur jalan untuk kenyamanan pengunjung gua.

Di sebelah kiri mulut gua, beberapa bagian dinding gua tampaknya sengaja diruntuhkan untuk memudahkan akses menuju rongga-rongga gua dan diberi nama tersendiri, yaitu Gua Inten, Gua Titikan, dan Gua Dempok.

Gua lain yang memiliki ruang cukup luas, tetapi bermulut sempit, adalah Gua Payung di Desa Argopeni. Ruang gua tidak mendapat cukup cahaya, sirkulasi udaranya pun tidak bagus. Gua ini tampaknya belum banyak terganggu, meskipun telah terjadi vandalism pada interior gua yang indah. Sejumlah tulisan dan coretan ditemukan pada stalagmit dan stalagtitnya.

Gua Terbang dan Gua Ka yang terletak di Dusun Tugu, Desa Banyumudal merupakan gua berukuran kecil dan lebih menyerupai ceruk. Kedua gua tersebut berada pada lereng atas yang cukup terjal dengan kemiringan 34˚ sehingga lumayan sulit untuk dijangkau. 
Deposit Gua Terbang dan Gua Ka juga sudah mengalami kerusakan akibat aktivitas penambangan fosfat yang intensif.
Gua Surupan yang terletak di Desa Argopeni sebenarnya merupakan gua yang cukup besar, mudah dijangkau, dan memiliki interior yang cukup bagus. Sirkulasi udara dan cahaya yang masuk juga memadai. Namun, sampai saat ini gua yang terletak di dasar lembah tersebut masih dialiri air.

Secara morfologis Gua Sikidang di Desa Nogoraji tampak berbeda dari enam gua yang sudah disurvei. Gua yang terletak di daerah lembah ini merupakan ponor (saluran air) yang mengikis endapan breksi andesit. Dalam hal ini, jelas bahwa proses pembentukannya berbeda dari gua-gua lainnya. Batas-batas bekas aliran air tampak hingga ke atap gua yang saat ini dalam keadaan kering.

Potensi Arkeologis Kawasan Karst Gombong

Jika ditinjau dari ukuran dan morfologi gua, serta ketersedian sumber air, di antara ketujuh gua yang sudah disurvei, Gua Banteng dan Gua Jatijajar merupakan gua-gua yang paling potensial untuk dihuni. Meskipun pada masa sekarang kedua gua terletak di lereng atas bukit karst, kemungkinan besar posisi awalnya tidak setinggi sekarang. Peristiwa geologis, seperti proses pengangkatan, telah menyebabkan gua-gua berada pada posisinya sekarang.

Selain kondisi gua dan daya dukung lingkungan, potensi gua sebagai lokasi hunian masa prasejarah dapat diketahui dari keberadaan data arkeologi, baik berupa artefak maupun ekofak. Sejauh ini, temuan arkeologis yang cukup signifikan berhasil didapatkan di Gua Banteng dan Jatijajar meskipun tidak dalam keadaan in situ karena deposit gua sudah terganggu.

Berdasarkan hasil pengamatan terhadap sisa deposit gua yang dibuang pada dinding luar Gua Jatijajar, telah diperoleh beberapa temuan arkeologis berupa tiga buah serpih dari batu gamping kersikan, satu buah artefak tulang, tanduk rusa, sejumlah fragmen tulang dan gigi binatang, serta cangkang moluska laut (Veneridae sp . dan (Anadara sp.).
Beberapa di antara fragmen tulang binatang tersebut menunjukkan tanda-tanda terbakar dan jelas bukan tulang yang resen.

Hasil analisis artefaktual menunjukkan bahwa satu di antara tiga buah serpih batu yang ditemukan di Gua Jatijajar merupakan limbah pembuatan artefak batu dan masih menyisakan bagian korteks. Adanya indikasi pembuatan alat serpih pada Gua Jatijajar dapat diketahui dari temuan dua buah batu pukul yang salah satunya menunjukkan kerusakan cukup intensif. Bahan artefak yang berupa gamping kersikan mengindikasikan bahwa sumber batuan ada di lingkungan sekitar gua.

Selain artefak batu, dari deposit Gua Jatijajar ditemukan pula artefak tulang meskipun hanya satu buah, berupa lancipan berujung tunggal. Morfologi lancipan tersebut belum sempurna atau masih dalam taraf pembuatan. Hal ini tampak pada bagian bekas pangkasan dua arah yang belum menampakkan usaha untuk mengasah, menggosok, atau memanggang. Lancipan tulang yang sudah sempurna pembuatannya, seperti yang ditemukan pada gua-gua di Pegunungan Seribu, biasanya menunjukkan bagian ujung yang sudah halus dan agak kehitaman, akibat dipanggang. Pemanggangan tulang dimaksudkan untuk memadatkan matriks tulang sehingga lebih keras dan dapat digunakan sebagai alat.

Sementara itu, temuan arkeologis dari Gua Banteng didapatkan pada sisa deposit  bekas aktivitas penggalian di dalam gua.
Temuan tersebut berupa dua buah fragmen gerabah, sejumlah cangkang moluska, baik moluska laut (Veneridae), air tawar (Lymnaeidae), maupun darat (Helicidae, Zonitidae, Vallonidae), serta tulang dan taring binatang.

Salah satu fragmen gerabah yang ditemukan memiliki motif hias tera berupa garis putus-putus pada permukaannya. Fragmen tersebut merupakan bagian badan sebuah wadah yang berwarna kecoklatan. Temper yang dicampurkan pada bahan gerabah ini berupa remukan koral
.
Fragmen gerabah yang lain merupakan bagian bibir suatu wadah, kemungkinan berupa periuk yang bibirnya melekuk keluar. Diameter mulut gerabah yang berwarna kehitaman ini sekitar 16 cm.

Keberadaan tulang dan gigi mamalia serta cangkang moluska laut di kedua gua merupakan data yang menarik yang dapat digunakan untuk memperkirakan diet dan sumber makanan bagi penghuni gua. Sebagai contoh,  keberadaan moluska laut dari famili Veneridae dan Anadara yang diketahui merupakan jenis moluska laut yang dapat dimakan. Cangkang Veneridae pada sejumlah gua di kawasan karst Pegunungan Seribu bahkan digunakan sebagai bahan untuk membuat alat serut (Anggraeni dkk. 2002a: 7; 2002b:49; Simanjuntak, 2002:148).

Pada saat ini, di Gua Jatijajar dan Gua Banteng belum ditemukan serut kerang. Namun demikian, melihat ketersediaan bahan dan tingkat teknologi artefak yang dimiliki, tidak mustahil bahwa alat serut dari cangkang Veneridae juga pernah dibuat oleh penghuni kedua gua.

Berdasarkan keberadaan temuan-temuan tersebut tampak jelas bahwa pada masa lampau beberapa gua di kawasan karst Gombong Selatan pernah dihuni. Meskipun tidak in situ lagi, temuan-temuan tersebut menunjukkan persamaan tipe dan tingkat teknologi dengan temuan dari Pegunungan Seribu. Keberadaan cangkang moluska laut pada Gua Jatijajar dan Gua Banteng yang masing-masing berjarak sekitar 6 km dan 12 km dari pantai mengindikasikan adanya eksploitasi sumberdaya laut oleh para penghuni gua.

Selain eksploitasi sumberdaya laut, sumberdaya lingkungan yang ada di sekitar gua tentunya menjadi pendukung utama bagi kehidupan para penghuni gua. Keberadaan fragmen-fragmen tulang dan gigi hewan mamalia menunjukkan bukti adanya eksploitasi sumberdaya hayati yang tersedia tidak jauh dari gua.

Dalam hal ini, ketersediaan air yang melimpah, seperti mata air-mata air yang ada di kaki bukit dekat gua, misalnya Gua Jatijajar, memungkinkan makhluk hidup, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya.

Kawasan yang tampaknya kering dan tandus tersebut suatu ketika pernah memiliki keanekaragaman sumberdaya hayati dan nonhayati yang memadai.
Keberadaan sumberdaya nonhayati seperti batu gamping yang menjadi bahan utama pembuatan semen, fosfat guano yang dapat digunakan untuk pupuk, serta batu lintang,  menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya aktivitas penambangan dan kerusakan kawasan karst.

Hal ini juga berarti mengancam kelestarian dan bahkan merusak deposit gua-gua yang mengandung temuan arkeologis. Di samping itu, morfologi gua yang khas, seperti Gua Jatijajar, menjadikan gua tersebut menarik untuk dijadikan objek wisata. Upaya pembangunan jalan setapak di dalam gua, pengerasan lantai gua dengan semen yang disertai dengan pengerukan deposit gua sedikit banyak telah merusak keaslian gua dan sekaligus menghilangkan data arkeologis yang penting untuk menyusun sejarah penghunian manusia pada suatu kawasan di masa lampau.

Tiga gua yang lain, yaitu Gua Payung, Gua Ka dan Gua Terbang, dilihat dari morfologinya mempunyai potensi sebagai gua hunian, tetapi temuan arkeologis yang diperlukan untuk mendukung asumsi  tersebut kurang signifikan. Dari sisa deposit Gua Terbang, misalnya, hanya didapatkan sedikit fragmen gerabah.

Hal ini disebabkan oleh tingkat kerusakan gua sebagai akibat aktivitas penambangan sudah cukup parah sehingga mengakibatkan deposit gua yang mungkin semula mengandung data arkeologis sudah habis.

Penutup

Hasil penelusuran potensi arkeologis di kawasan karst Gombong Selatan menunjukkan bahwa di kawasan tersebut terdapat gua-gua hunian yang dapat disejajarkan dengan gua-gua di Pegunungan Seribu. Kemungkinan mengenai penghunian beberapa gua di kawasan karst Gombong Selatan, seperti Gua Jatijajar dan Gua Banteng, tersirat melalui morfologi gua dan temuan arkeologis yang didapatkan di gua-gua tersebut.

Meskipun jumlah temuan sangat sedikit dan sudah tidak in situ lagi tidak mengurangi signifikansinya sebagai data arkeologi yang berguna untuk mengungkap kehidupan manusia pada masa lampau.

Hasil analisis terhadap temuan artefaktual dan ekofaktual menunjukkan bahwa manusia penghuni Gua Jatijajar dan Gua Banteng juga melakukan aktivitas pembuatan alat dan mengeksploitasi sumberdaya lingkungan.
Aktivitas pembuatan alat dari batu dan tulang ditunjukkan oleh keberadaan lancipan tulang, artefak batu (serpih dan limbah) disertai dengan batu pemukul yang menunjukkan kerusakan.

Jenis bahan dan tipe artefak yang ditemukan di kawasan karst Gombong yang mempunyai kemiripan dengan temuan artefak dari gua-gua di Pegunungan Seribu mengindikasikan bahwa teknologi di kedua kawasan berada pada tingkat yang sejajar pada suatu masa.

Pemanfaatan sumberdaya lingkungan hayati untuk keperluan makan diketahui dari keberadaan tulang, tanduk, dan gigi rusa dan mamalia lainnya, serta taring babi. Di samping pemanfaatan mamalia darat tersebut, eksploitasi terhadap biota laut juga dilakukan.

Keberadaan cangkang moluska laut seperti Veneridae dan Anadara mengindikasikan adanya kegiatan eksploitasi tersebut. Jarak antara kedua gua dengan pantai, yaitu sekitar 6 km dari Gua Jatijajar dan 12 km dari Gua Banteng, bukan merupakan hambatan. Jarak tersebut masih berada pada jarak tempuh suatu wilayah jelajah.

Berdasarkan sisa-sisa temuan artefaktual dan ekofak dari gua-gua yang sudah terganggu oleh aktivitas masa kini tampak jelas bahwa secara luas kawasan karst Gombong Selatan sendiri terancam kelestariannya akibat penambangan gamping untuk pembuatan semen. Oleh karena itu, gua-gua di kawasan karst Gombong Selatan yang rawan terhadap kerusakan sebagai akibat penambangan fosfat guano dan batu lintang, tetapi belum terjangkau survei kali ini, perlu segera diteliti secara intensif.

___



Daftar Rujukan

Anggraeni, Mahirta, D.S. Nugrahani. 2002a. “Karakteristik Budaya Bendawi Kawasan Ponjong: Hasil Ekskavasi Situs Song Bentar dan Song Blendrong”.
Makalah disampaikan dalam Seminar Sehari Gunungkidul dalam Visi Budaya
dan Lingkungan Purba, Yogya-karta, 17 September 2002.

___________ 2002b. “Eksploitasi Sumberdaya Hayati Pegunungan Seribu pada Awal Holosen dan Implikasinya: Studi Kasus di Kecamatan Ponjong, Gunungkidul”,
Laporan Penelitian MAK 5250 DIK UGM, 2002.

Asikin, Sukendar, A. Handoyo, H. Busono, dan S.Gafoer.1992. Geologi Lembar Kebumen, Jawa. Bandung: Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi.

Bartstra, Gert-Jan.1978. “Recent Palaeolithic Research in Java (Kali Glagah, Pacitan, Gombong, Sangiran): The First Six Months of a New Project”, dalam Gert Jan Bartstra andWillem Arnold Casparie, Modern QuatenaryResearch in Southest Asia,Vol.4,Rotterdam: A.A Balkema, halaman 63-70.

-----. 1984. “Some Remarks Upon: Fossil Man fromJava, His Age, and His Tools”, dalam Pietervan de Velde (ed.). Prehistoric Indonesia AReader.VKI 104, halaman 164-177.

Bemmelen, R.W. van. 1970. The Geology of Indonesia,Vol. 1, edisi ke-2. The Hague: Martinus Nijhoff.

Prasetya, Aris Budi. 1995. “Identifikasi Artefak BatuSitus Kenteng, Semali, dan Kedungbulus diGombong”, Skripsi Sarjana, Fakultas SastraUniversitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Samodra, Hanang. 2001. Nilai Strategis KawasanKars di Indonesia, Pengelolaan dan Perlindungan-nya. Bandung: Pusat Penelitian dan Pengem-bangan Geologi.

Simanjuntak, Truman (ed.). 2002. Gunung Sewu inPrehistoric Times.
Yogyakarta: Gadjah MadaUniversity Press.

Soejono, R.P., ed. 1984. Sejarah Nasional Indonesia,Jilid I, terbitan ke-4. Jakarta: Balai Pustaka, Jakarta.

Widayat, R. Ahmad Rosyadi. 2002. “KeberadaanArtefak Batu Paleolitik di Kawasan PegununganSerayu Selatan dan Faktor yang Mempe-ngaruhinya”, Skripsi Sarjana, Fakultas SastraUniversitas Gadjah Mada, Yogyakarta.