TEMPO.CO, Jakarta
- Rencana pembangunan pabrik PT Semen Gombong hanya tinggal menunggu
keluarnya analisis dampak lingkungan. Kepala Badan Lingkungan Hidup
Kebumen, Masagus Herunoto, menyatakan penyusunan amdal akan
memperhatikan kawasan itu sebagai kawasan lindung dan penyerap air.
Dia
akan memastikan bukit kapur yang akan ditambang berada di luar kawasan
lindung. »Kami juga akan melihat apakah warga sekitar tambang
mengizinkan apa tidak,” kata Masagus, Senin, 18 November 2013.
Site
Manager PT Semen Gombong, Tineke Sunarni, mengatakan PT Semen Gombong
akan mengikuti seluruh peraturan perundangan yang ada. "Kami optimistis
Amdal bisa segera keluar dan kami bisa segera membangun pabrik,"
katanya.
Ia mengatakan, sebenarnya Amdal pembangunan pabrik
sudah pernah keluar pada 1996. Hanya saja, karena ada krisis moneter,
proyek itu dihentikan. Saat ini mereka harus membuat Amdal baru dengan
peraturan baru.
Ia menyebutkan, bukit kapur yang akan
ditambang hanya 3-5 persen dari total kawasan karst Gombong sebesar
4.894 hektare. Menurut dia, lokasi tambang PT Semen Gombong berada di
kawasan timur karst Gombong. Tineke mengklaim lokasi tambang berbeda
dengan gua karst berumur puluhan juta tahun yang menurut dia berada di
sebelah barat.
PT Semen
Gombong merupakan anak perusahaan Grup Medco milik pengusaha Arifin
Panigoro. Total luas lahan yang akan ditambang ditambah pabrik mencapai
500 hektare di Kecamatan Buayan dan Rowokele.
TEMPO.CO, Kebumen
- Masyarakat sekitar lokasi penambangan menolak rencana pendirian
pabrik PT Semen Gombong. Mereka khawatir, penambangan bukit kapur akan
menurunkan kualitas dan mengurangi pasokan air yang selama ini
diandalkan ribuan masyarakat. “Sejak awal kami menolak tegas rencana
penambangan bukit kapur Gombong,” kata Koordinator Komunitas Masyarakat
Kawasan Karst Gombong Selatan, Supriyanto, Selasa, 20 November 2013.
Saat
ini, kata dia, ada 35 relawan anggota komunitas yang secara sukarela
melakukan sosialisasi tentang pentingnya kawasan karst. Pada zaman
Soeharto, mereka tak berani melawan karen aparat keamanan bertindak
represif.
Rencana penambangan pabrik semen, kata Supriyanto,
dimulai sejak 1996. PT Semen Gombong, sebagai investor, sudah
membebaskan lahan untuk lokasi pabrik dan lahan karst untuk ditambang.
Karst Karangbolong atau Karst Gombong Selatan memiliki fungsi sebagai
penangkap, penyimpan dan penyuplai air bersih bagi masyarakat yang hidup
di sekitarnya (Foto. A.B. Rodhial falah)
PRAJURIT tua tak pernah mati, mereka hanya memudar hilang”. Kalimat
Jenderal Mac Arthur melintas di ingatan saat membaca laporan Otto
Soemarwoto, Kajian Pro-Kontra Rencana Pembangunan Pabrik PT Semen
Gombong (April 2003).
Sebuah perusahaan berencana membangun pabrik semen di Desa Nagaraji,
Gombong Selatan, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah. Bahan baku
semen berupa batu gamping terletak di kawasan gua karst Gombong Selatan.
Kebanyakan penduduk daerah rendah pendapatannya. Pengusaha beranggapan
pembangunan pabrik bermanfaat bagi daerah karena mengurangi kemiskinan
dan menaikkan pendapatan asli daerah. Tetapi, pembangunan pabrik semen
juga merusak gua karst Gombong, merusak habitat tempat bersarang burung
walet dan kelelawar serta menghancurkan fungsinya sebagai “waduk alam”
penyimpan air.
Muncul persoalan yang mempertentangkan “pembangunan semen” melawan
“pelestarian gua karst Gombong”. Pengusaha telah mengantongi izin
pemerintah (1996) tentang “Analisis mengenai Dampak Lingkungan” (amdal)
sehingga syarat legal dipenuhi. Namun, banyak pihak menentang
pembangunan pabrik semen yang dianggap bakal merusak lingkungan kawasan
karst Gombong.
DALAM laporannya Bung Otto berpendirian soal pro-kontra pembangunan
pabrik semen harus dilihat dari kaca mata “Pembangunan Berkelanjutan”.
Sejak Presiden Soeharto menyepakati keputusan “Konferensi Tingkat Tinggi
Bumi” di Rio, Brasil, 1992, Indonesia menganut kebijakan pembangunan
berkelanjutan yang intrinsik masuk dalam pembangunan nasional rumusan
Bappenas.
Bila “pembangunan konvensional” menempuh hanya satu jalur pembangunan
ekonomi, “pembangunan berkelanjutan” merajut tiga unsur yang menyatu,
yakni sustainabilitas ekonomi, sustainabilitas sosial, dan
sustainabilitas ekologi-lingkungan. Agar usaha ekonomi berlanjut, perlu
diperhitungkan dampaknya pada keberlanjutan kehidupan masyarakat sosial
yang ditopang keberlanjutan fungsi ekologi-lingkungan sebagai sistem
penunjang kehidupan makhluk alam.
Ekonomi tidak bisa berlanjut di tengah masyarakat yang menderita
dampak negatif pembangunan berupa penggusuran penduduk, marginalisasi
penduduk setempat karena tidak berpendidikan dan karena miskin tidak
punya jaminan meminjam kredit perbankan. Pembangunan ekonomi serta
sosial tidak bisa berlanjut bila sistem ekologi-lingkungan yang
mendukung kehidupan alami amburadul, rusak, dan cemar.
Dalam mengkaji pro dan kontra pembangunan pabrik semen Gombong ini,
Bung Otto memakai tolok ukur pembangunan berkelanjutan yang mencakup
ketiga unsur ekonomi, sosial, dan ekologi-lingkungan. Unsur ekonomi
mencakup ikhtiar memberantas kemiskinan, membuka lapangan kerja,
mengembangkan eko-wisata. Unsur sosial memuat penanganan masalah gender
dan masalah sosial akibat penutupan penambangan semen setelah bahan
bakunya habis. Unsur ekologi-lingkungan meliputi konservasi karst
Gombong Selatan, melestarikan volume dan kualitas air, menggunakan
proses dan teknik produksi yang memperkecil pencemaran udara yang
berdampak pada pemanasan global, dan mengembangkan produksi semen dengan
cara-cara yang ramah lingkungan.
Unsur ekonomi, sosial, dan ekologi-lingkungan seyogianya terungkap
melalui kajian amdal yang program penanggulangannya termaktub dalam
“Rencana Kelola Lingkungan” (RKL) maupun “Rencana Pemantauan Lingkungan”
(RPL). Kajian kritis terhadap hasil amdal yang disetujui Pemerintah
tahun 1996 dan diuji di lapangan menunjukkan berbagai kelemahan
prinsipiil. Yang paling serius adalah tak digunakannya pendekatan
ekosistem yang mencakup ruang lingkup kawasan karst ini.
Dari sudut sustainabilitas ekonomi, kehadiran pabrik semen tidak
otomatis mengurangi kemiskinan dan membuka lapangan kerja penduduk
setempat karena rendahnya tingkat pendidikan rata-rata penduduk lokal
sehingga mudah termarginalisasi oleh pendatang. Hal-hal ini tidak
digubris RKL yang disusun.
Dari sudut sustainabilitas sosial, rendahnya indeks kesempatan
perempuan masuk angkatan kerja dan menduduki jabatan kunci menunjukkan
adanya diskriminasi perempuan di kabupaten Kebumen, sehingga dibutuhkan
upaya khusus guna menanggapinya. Namun, hal ini tidak disinggung dalam
RKL.
Dari sudut sustainabilitas ekologi-lingkungan tampak kelemahan pokok
hasil amdal yang mengabaikan fungsi karst Gombong Selatan sebagai “waduk
alam” yang amat penting karena mampu menyimpan air di Jawa Tengah
selatan yang dikenal kering. Kawasan karst bagai busa yang menampung dan
menyimpan air hujan untuk dialirkan dalam danau, air di bawah kawasan
karst, dan sungai sepanjang tahun.
Akibat tekanan pertambahan penduduk pada dekade mendatang, Jawa akan
menjadi “pulau kota” (tahun 2020). Dan air tawar menjadi bahan paling
langka sehingga kemampuan alam melestarikan sumber air menjadi amat
penting. “Sumbangan” Indonesia pada pencemaran udara global sudah amat
besar. Jika di masa depan Indonesia masih tidak aktif mengendalikan
emisi karbon dari kebakaran hutan dan pembakaran minyak bumi untuk
energi, transportasi, dan industri, maka “sumbangan” Indonesia kian
berarti bagi pencemaran udara.
Hal ini meninggikan suhu global sehingga
menaikkan permukaan laut yang bakal menenggelamkan pulau-pulau kecil di
Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Ia juga mengubah iklim kawasan Asia.
Kenaikan suhu bumi juga memperbesar pengeringan air permukaan dan
berpengaruh buruk pada pola pertanian kita yang masih banyak
mengandalkan aliran air permukaan daratan. Semua ini menaikkan nilai air
bawah tanah yang dihasilkan kawasan karst Gombong Selatan.
TEKNOLOGI produksi semen di Indonesia boros energi dan menimbulkan
emisi CO2 yang menyumbang pada kenaikkan suhu global. Kini, para
produsen semen berbagai negara, antara lain Jepang, sudah menerapkan
pola produksi blended cement yang bisa menurunkan separuh emisi CO2.
Tidak tampak dalam RKL rencana mengurangi emisi CO2. Khusus dalam
menanggapi dampak “penutupan penambangan bahan baku semen” ketika bahan
baku habis, tidak ada dalam RKL usaha memelihara keberlanjutan
pembangunan kawasan ini.
Sehingga Bung Otto menyimpulkan, suatu pola pembangunan berkelanjutan
yang secara sadar memuat unsur keberlanjutan ekonomi, sosial, dan
ekologi-lingkungan tidak bisa menerima kehadiran pembangunan pabrik
semen di Gombong Selatan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Pola pembangunan
berkelanjutan yang didambakan perlu tertuang dalam rencana induk
pengembangan kawasan karst Gombong.
Rencana ini perlu disusun sebagai
hasil musyawarah yang melibatkan semua pemuka masyarakat Kebumen di
tempat dan di perantauan dan kita semua yang sadar akan kekhasan fungsi
karst serta ancaman kelangkaan air kelak. Rencana ini perlu difokuskan
pada penyelamatan kawasan karst Gombong yang sekaligus menjadi sentra
penggerak pembangunan kawasan dan mencakup lima bidang kegiatan.
Pertama, pengembangan pariwisata seperti wisata gua, wisata bahari,
dan eko-wisata yang didasarkan prinsip “pembangunan oleh masyarakat”.
Bentuk wisata berupa menelusuri gua, berjalan-kaki, berkuda, dan
bersepeda. Penginapan berupa “inap dan sarapan”, home-stay mengutamakan
rumah-rumah rakyat bertoilet bersih serta dihindarinya pengembangan
hotel berbintang.
Kedua,
agro-perhutanan, mengembangkan agro-ekosistem terpadu dengan struktur
tajuk bertingkat yang mencakup tumbuhan, hewan ternak, dan ikan. Sistem
dibangun atas dasar pencagaran terintegrasi bermuatan kearifan ekologi
penduduk.
Ketiga,
pengembangan laboratorium geologi mencakup ilmu speleologi, hidrologi,
bio-speleologi, dan sebagainya untuk kawasan alam tropis dan bekerja
sama dalam jaringan lembaga ilmu pengetahuan Karangsambung, Gunungkidul,
Wonogiri, dan Pacitan.
Keempat, pelestarian dan pembudidayaan burung walet yang melibatkan masyarakat serta pakar burung walet sebagai stakeholders.
Kelima,
pengembangan energi-terbarukan berupa mikroair, solar-matahari, angin,
biomassa yang terdesentralisasi sehingga menunjang pembangunan di atas.
Dengan
lima pokok Rencana Induk ini, dari kawasan karst Gombong dapat
ditembakkan “peluru” contoh pola pembangunan berkelanjutan yang tidak
lagi mempertentangkan pembangunan ekonomi dengan lingkungan tetapi
menyatu dan terpusat meningkatkan kesejahteraan rakyat kecil. Prajurit
tua memang tak pernah mati. Mereka hanya melepaskan tembakan jika perlu.
(reposting atas seijin admin https://www.facebook.com/groups/138821779543097)
Kawasan karst Gombong selatan terletak
di kabupaten kebumen, jawa tengah termasuk dalam rangkaian Pegunungan Serayu
Selatan dengan kondisi geologi menarik. Pada kawasan ini didapatkan potensi
sumberdaya mineral berupa batugamping, kalsit, andesit, fosfat, mangan, tras,
bentonit serta cebakan emas. Keterdapatan potensi sumber daya mineral
menjadikan kawasan ini menarik banyak pihak untuk melakukan eksploitasi.
Potensi batugamping, mangaan dan fosfat banyak diburu inverstor. Berdasarkan
Kepmen ESDM No. 961.K/40/MEM/2003 kawasan ini telah ditetapkan sebagai Kawasan
Lindung karena mempunyai fenomena alam yang unik dan langka serta mempunyai
nilai penting bagi kehidupan dan ekosistim. Pada kawasan ini telah dibuat tata
ruang kawasan yang mencakup 3 zone berupa kawasan karst Kelas I, II dan III. Karst
kelas I mencakup sekitar 75 persen luas kawasan yang harus terbebas dari
aktifitas penambangan dan budidaya.
Aktivitas penambangan andesit, batugamping,
kalsit, fosfat serta sebagian besar sebaran potensi sumberdaya mineral berada
pada kawasan karst kelas I. Untuk itulah perlu dilakukan kajian pengelolaan
sehingga fungsi kawasan lindung dapat berjalan.
Kawasan karst Gombong Selatan
semakin rusak akibat beban yang berat terutama dari penambangan oleh masyarakat
di sekitarnya sebagai satu-satunya mata pencaharian yang berisiko tinggi dan
merusak ekosistem karst sebagai sumber mata air, keanekaragaman hayati,
laboratorium alam ilmu pengetahuan dan lain-lain. Di samping itu
pembakaran kapur hasil penambangan juga dapat menimbulkan asap tebal yang
mengganggu kesehatan lingkungan menyebabkan sesak napas, penyakit inspeksi
saluran penapasan atas (ISPA), mata pedih, penyakit paru-paru, stres dan
lain-lain.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, perlu pelestarian
fungsi lingkungan kawasan karst, adanya pembekalan mengenai renovasi kawasan
karst, pemberdayaan dan pengkaderan lingkungan bagi masyarakat penambang yang
bertempat tinggal di sekitar kawasan karst Gombong Selatan. Kegiatan ini
dimaksudkan untuk menumbuhkan kesadaran, pemahaman, mencari alternatif alih
profesi serta membangun kemandirian dan inisiatif masyarakat sekitar akan arti
pentingnya kawasan karst bagi aspek lingkungan dan kehidupan.
sumber http://jurnal-sejarah.blogspot.com/2012/10/kawasan-karst-gombong-selatan.html
KEBUMEN, KOMPAS.com —
Penambangan batu kapur secara liar di Kawasan Karst Gombong Selatan,
Kebumen, Jawa Tengah, semakin mengancam ekosistem yang telah ditetapkan
sebagai kawasan lindung tersebut. Selain itu, penambangan secara masif
menyebabkan habitat makhluk hidup lain di sekitar gunung kapur
terganggu.
Kepala Kantor Lingkungan Hidup Kebumen Masagus Herunoto
mengatakan, secara sporadis penambangan liar yang terjadi selama
puluhan tahun telah nyata merusak kelestarian ekosistem Kawasan Karst
Gombong Selatan (KKGS), yang pada 2004 ditetapkan Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono sebagai kawasan eko-karst.
"Kami punya tanggung
jawab menjaga karst. Tapi, persoalan di lapangan tak semudah yang
dibayangkan. Aktivitas tambang kapur masih menjadi pekerjaan utama
sebagian besar warga sekitar lokasi penambangan," tutur Masagus, Senin
(21/5/2012), di Kebumen.
Data Dinas Sumber Daya Air Energi dan
Sumber Daya Mineral Kebumen mencatat, setidaknya terdapat 130 usaha
tambang batu kapur di tiga kecamatan yang masuk KKGS. Lokasi penambangan
tersebar di Kecamatan Ayah sebanyak 37 usaha, Kecamatan Buayan 54
usaha, dan Kecamatan Rowokele 39 usaha. Penambangan berskala besar
terdapat di Desa Jatijajar, Desa Redisari, Desa Kalisari, dan Desa
Banyumudal, yang umumnya digunakan untuk kapur tohor.
Hampir semua usaha penambangan batu kapur rakyat tersebut tidak mengantongi izin. Berdasarkan pantauan Kompas,
kegiatan penambangan rakyat secara turun-temurun meninggalkan luka di
perbukitan karst. Selain menggunakan kapak dan linggis, tak jarang
sebagian upaya penambangan menggunakan bahan peledak.
Sejumlah
media arus utama telah mengangkat soal dominasi modal asing dalam perekonomian
Indonesia. Sepanjang yang kami ketahui, apa yang disampaikan oleh media arus
utama itu bukanlah hal yang baru, tetapi sudah seringkali disuarakan oleh
kelompok-kelompok kritis dan kalangan oposisi.
Dominasi
modal asing sebetulnya bukan cuma mengkhawatirkan, tetapi sekaligus telah
membawa perekonomian nasional dalam ‘situasi genting’.
Sebab, mengutip
perkataan Bung Karno 81 tahun yang lalu, bahwa ‘raksasa biasa yang dulu
berjengkelitan di atas pada kerezekian Indonesia, kini sudah menjadi raksasa
Rahwana-Dasamuka yang bermulut sepuluh’.
Dominasi
modal asing itu dapat dilihat pada tiga lapangan:
pertama, menguasai
perbankan nasional;
kedua, mendominasi investasi di Indonesia;
ketiga,
menguasai bursa saham di Indonesia. Dengan menguasai tiga lapangan ekonomi yang
sangat penting itu, maka modal asing sebetulnya sudah ‘mencekik’ leher
perekonomian nasional.
Perdebatan
soal perlu dan tidaknya modal asing hampir bersamaan dengan pembicaraan soal
lahirnya nation baru bernama Indonesia. Bung Karno sudah mengulas soal
modal asing itu dalam tulisan-tulisannya sejak tahun 1930-an. Sejak awal, di
kalangan republik sendiri, ada pihak-pihak yang menganggap modal asing sangat
penting untuk mendorong ekonomi nasional Indonesia.
Karena modal nasional atau
milik bangsa Indonesia masih sedikit, maka modal asing diperbolehkan untuk membangun
kepentingannya di Indonesia.
Mohammad
Hatta, Wakil Presiden Indonesia yang pertama, pernah berkata:
“Soal kapital
menjadi halangan besar untuk memajukan industrialisasi di Indonesia. Rakyat
sendiri tidak mempunyai kapital. Kalau industrialisasi mau berarti sebagai
jalan untuk memakmurkan rakyat, perkataan-perkataan kemakmuran rakyat (cetak
tebal, red) mestilah kapitalnya datang dari pihak rakyat atau pemerintah.
Karena, kalau kapital harus didatangkan dari luar, tampuk produksi terpegang
oleh orang luaran.
Dan,
dengan jalan itu, kata Mohammad Hatta, industrialisasi tidak akan berjalan di
Indonesia, karena modal asing hanya membangun pabrik menurut kepentingannya
sendiri atau membangun pabrik pada sektor-sektor yang menjanjikan keuntungan
berlebih.
Dan,
memang betul apa yang dikatakan Hatta, sudah 60 tahun lebih modal asing
mengambil peranan dalam perekonomian sejak Indonesia merdeka, industri yang
terbangun masih sangat sedikit.
Sebaliknya,
jika kita teliti lagi dengan baik, keberadaan modal asing itu justru membawa
tiga malapetaka: merampok semua kekayaan alam bangsa kita, mengangkut
keuntungan besar sekali dari bumi kita, dan menciptakan kemiskinan dan ancaman
kerusakan lingkungan yang sangat parah.
Akibat
dari penguasaan asing itu, sebagaimana diakui oleh Burhanuddin Abdullah, mantan
Gubernur Bank Indonesia, ‘rakyat Indonesia hanya menikmati 10% dari
keuntungan ekonomi, sedangkan 90%nya dibawa asing keluar.’
Kita
boleh percaya atau tidak dengan apa yang dikatakan oleh Burhanuddin Abdullah.
Tetapi, apa yang tak terbantahkan, bahwa kita bangsa yang punya kekayaan alam
yang melimpah dan sumber daya manusia yang besar, tetapi kenyataannya sebagian
besar rakyat kita hidup sengsara.
Selain
itu, supaya modal asing itu bisa berkembang dan mencapai tujuan-tujuannya, maka
mereka pun mengajukan syarat-syarat: jaminan keamanan, penyediaan tenaga kerja
berupah rendah, stabilitas ekonomi, kemudahan transfer modal dan keuntungan,
dan keringanan pajak.
Dengan
keberadaan syarat-syarat itu, maka modal asing bebas menggali keuntungan
sebesar-besarnya di bumi Indonesia, sedangkan kehidupan rakyat dan ekonomi
nasional menjadi tergerus karenanya. Beberapa dampak yang terlihat, antara
lain:
Pertama, perampokan kekayaan alam dan cabang-cabang produksi yang
penting menyebabkan—meminjam istilah Bung Karno—‘pengeringan terhadap rakyat
Indonesia’.
Kedua, karena modal asing memerlukan tanah, pembangunan
infrastruktur pendukung, dan jaminan keamanan, maka sering terjadi perampasan
tanah, penggusuran, dan represi atau penindasan terhadap rakyat.
Dibentuk alam selama ribuan tahun, muncullah sebuah karya nan indah yang
menawarkan nuansa lain. Tempat berpetualang di perut bumi, namun santai dan menyenangkan
yang terletak 21 kilometer ke arah selatan Gombong, atau 42 kilometer arah
barat Kebumen.
Gua Jatijajar berada di kaki pegunungan kapur. Objek wisata ini sungguh sangat
menarik. Pegunungan kapur ini memanjang dari utara dan ujungnya di selatan menjorok
ke laut berupa sebuah tanjung.
Sebagaimana umumnya objek wisata lain di Indonesia, yang hampir selalu
menyimpan legenda, Gua Jatijajarpun tak terkecuali. Kata yang punya cerita, Gua
Jatjajar ini pada zaman dahulu merupakan tempat bersemedi Raden Kamandaka, yang
kemudian mendapat wangsit. Cerita Raden Kamandaka ini kemudian dikenal dengan
legenda Lutung Kasarung. Visualisasi dari legenda tersebut dapat kita lihat
dalam diorama yang ada di dalam goa itu.
Masuk ke dalam gua ini, bagaimanapun ada rasa degdegan. Betapa tidak! Karena
merasa seperti masuk ke dalam mulut binatang purba Dinosaurus. Tambah ngeri
lagi jika membayangkan gelapnya suasana di dalam perut dinosaurus tersebut.
Namun rasa cemas itu segera sirna, sebab ruangan diterangi oleh lampu listrik
dari ujung ke ujung. Meski mulut gua cukup lebar, namun ruang perut dinosaurus
lebih lebar lagi. Pada langit-langit terdapat sebuah lubang sebagai ventilasi.
Di tengah-tengah terdapat kursi melingkar tempat duduk pengunjung sambil
menikmati indahnya ornamen stalagtit dan stalagnit serta diorama legenda Lutung
Kasarung.
Setelah puas menyaksikan sajian ini, perjalanan dilanjutkan dengan menuruni
tangga menuju ruang yang merupakan bagian ekor dari dinosaurus tersebut. Di
dalam ruang ini, Anda dapat melihat sumber mata air yang disebut Sendang.
Jumlah sendang tersebut ada 4 buah, yaitu Sendang Mawar, Kantil, Jombor dan
Puserbumi. Sendang Mawar dipercayai mempunyai kekuatan gaib yang bisa membuat
seseorang tetap awet muda, karenanya setiap pengunjung selalu menyempatkan diri
untuk membasuh muka dengan air Sendang Mawar tersebut.
Dipenuhi oleh rasa kagum dan terpesona, tanpa terasa Anda telah menempuh jarak
250 meter menyusuri perut dinosaurus. Fantastis bukan? Dan itulah kenyataannya.
Bukan itu saja, bahkan tanpa Anda sadari, Anda telah masuk ke perut bumi
sedalam 40 meter. Benar-benar suatu petualangan yang santai yang hanya bisa
dicicipi di Taman Wisata Gua Jatijajar.
Terletak 21 Km sebelah barat daya Kecamatan Gombong, atau 42 Km sebelah barat
daya kota Kebumen. Legenda di dalam goa menggambarkan legenda Raden Kamandaka
atau legenda Lutung Kasarung. Panjang goa adalah 250 meter. Di area Goa
Jatijajar ini juga terdapat beberapa goa lainnya, seperti Goa Intan dan Goa
Dempok serta tersedia taman dan Pulau Kera. Untuk menuju ke obyek wisata ini
telah tersedia sarana dan prasara transportasi, penginapan serta rumah makan
yang relatif representatif. Patung Dinosaurus yang seolah memuntahkan air dalam
lokasi wisata ini sebenarnya merupakan muara dari mata air dari dalam Goa
Jatijajar yang tiada pernah berhenti walau musim kemarau sekalipun.
Obyek wisata Goa Jatijajar dilengkapi taman yang asri yang dilengkapi dengan
taman bermain. Taman ini diberi nama Pulau Kera, karena di taman ini terdapat
banyak patung kera. Di gerbang mulut Goa Jatijajar, terdapat lobang di antara
stalagnit, sehingga bila cahaya matahari masuk terlihat sangat indah. Goa
Jatijajar merupakan bukti dari legenda Kamandaka (Lutung Kasarung), di mana
kisah ini secara tersirat dikisahkan melalui patung-patung yang ada di dalam
Goa Jatijajar. Di dalam Goa Jatijajar terdapat sebuah mata air (sendang) yang
konon kabarnya akan membuat awet muda bagi yang mencuci muka di sana.
Di samping Goa Jatijajar, masih terdapat goa yang lain seperti Goa Dempok ini.
Stalagtit yang terdapat di dalam Goa Dempok terbentuk secara alami selama
ratusan atau bahkan ribuan tahun yang lalu. Hingga kini masih terjaga
keasliannya. Goa Intan berada satu lokasi dengan obyek wisata Goa Jatijajar.
Goa ini memiliki keunikan tersendiri dengan langit goa yang relatif tidak
terlalu tinggi. [1]
2. Goa Petruk
Terletak 7 Km selatan Goa Jatijajar. Petruk diturunkan dari nama pengikut setia
Pandawa dalam cerita pewayangan. Goa ini sangat mempesona. Tetesan air kapur
terdengar bagaikan kebisingan yang tiada henti. Banyak stalaktit yang
menyerupai bentuk kehidupan di dunia, seperti halnya stalaktit seperti anjing
duduk ini. Stalaktit ini sangat memukau pengunjung karena menyerupai tokoh
Semar dalam cerita pewayangan. Gorden raksasa akan mengingatkan betapa Maha
Kuasanya Tuhan YME dan segala ciptaannya di bumi dan di langit.
Boneka-boneka mungil terdapat di dalam Goa Petruk di antara aliran air dalam
gua yang sejuk. Stalaktit ini sangat mirip dengan payudara yang tidak terdapat
di tempat lain. Tangan anda dapat menyentuhnya karena dinding goa yang tidak
terlalu tinggi.
ornamen yg ada di gua petruk sangat bervariasi dan sangat lengkap, bahkan gua
ini pernah dijadikan gua terbaik dan tercantik se indonesia,beberapa tahun yg
lalu, bahkan salah satu ornamennya pernah diabadikan oleh pos indonesia,
sebagai background salah satu perangko.
3. Gua Barat
Gua barat terletak tidak jauh dari gua petruk dan gua jatijajar, berada di
kecamatan Ayah,kab.kebumen. gua barat menurut para menelusur adalah rajanya gua
di kawasan karst gombong selatan, dimana beratnya medan yg dilalui dan panjang
lorongnya. menurut peneliti dr perancis, panjang total gua ini lebih dari 4.000
meter.
begitu masuk gua ini akan berhadapan dengan lorong berair sedalam 0,5 m,
semakin ke dalam lorong akan melebar (k-k 5-10 m), medan akan seperti sungai
sedalam 1-4 m. sepanjang perjalanan, akan dijumpai pemandangan yg menakjubkan
mata, ornamen yg sangat memukau, perjalanan 800an meter, medan akan dilanjutkan
dengan air terjun, apabila akan melanjutkan perjalanan maka harus memanjat
tebing air terjun setinggi 10 meter, selanjutnya (mnrt org perancis), medan
akan seperti sungai kecil, sepanjang total lbh dari 3.000 meter. gua ini rawan
banjir.
satu hal yg harus dicacat :
sebelum masuk wajib lapor base camp, bawa perlengkapan standar caving ditambah
pelampung dan alat RC/SRT. penelusuran sampai air terjun pertama biasanya harus
menginap di dalam jd bawa cadangan makanan dan batu baterey yg cukup.
4. Gua Macan
Gua Macan terletak di desa Candirenggo, Kec.Ayah, Kab. Kebumen. Terletak satu
desa dengan Gua Petruk, Gua Macan keunggulannya atau daya tariknya adalah
mempunyai medan vertikal ke bawah sedalam 40 meter, total panjang lorong ini
sekitar 1 km.
Pintu masuk gua ini sangat kecil dan akan melebar kearah dalam, perjalanan 300
m akan ditemui sumuran yg sangat lebar (diameter 100 m), jika ingin melanjutkan
perjalanan harus turun menggunakan set SRT. sampai di bawah lorong akan
bercabang, mengikuti air atau menaiki aliran air.
Penelurusan
yg menuruni aliran air, akan tembus ke luar gua, namun jika menaiki aliran air,
akan buntu, karena ada lorong yg tertutup air.
Jadi apabila
akan memasuki gua ini wajib mahir dalam SRT dan rescue. sepanjang lorong gua
ini berair, seperti sungai kecil. gua macan merupakan gua andalan di kawasan
ini.
5. Gua Jemblongan.
Gua ini merupakan sambungan Gua Petruk, namun dari arah yg berbeda. Gua Jemblongan
mempunyai mulut yg besat dan medan berupa aliran air. panjang gua ini sekitar
700 m.
6. Gua Darat
Gua ini berada di Desa Rogodadi, Kecamatan Buayan, Kebumen. Gua ini berupa
lorong yg kering, gua ini hanya mempunyai panjang sekitar 150 meter.
Gua Darat
sekarang sudah dijadikan tempat wisata lokal, karena ornamen-ornamennya yg
cukup bagus. Daya tarik yang lebih bagus adalah pemandangan sekitar gua, karena
berada di puncakan sebuah pegunungan.
7. Gua Simbar
Gua ini
berada tepat dibawah Gua Darat. Gua Simbar sampai saat ini belum ada yg
mengetahui berapa panjang total sebenarnya.
Penelusuran
dan pemetaan yang dilakukan, baru sekitar 700 m, terhenti karena medan yang
berupa lorong berair dalam.
Selain itu
gua ini mempunyai percabangan yg sangat banyak dan rumit (simpang susun). Gua
ini termasuk gua berair dan masih sangat aktif. Ornamen di gua ini sangat
memukau, karena masih sedikit penelusur yg bisa memasukinya (hanya golongan
penggiat alam bebas) saja, karena memerlukan keterampilan dan peralatan khusus.
8. Gua Kali
Gua Kali berada di bawah Gua Simbar, sesuai namanya dari mulut gua sampai ujung
medan berupa aliran sungai sedalam 0,5-1 meter.
Gua ini
merupakan sarang kelelawar yg sangat besar, menurut warga gua ini panjangnya
sekitar 700an meter.
Karena pada telusur
sepanjang 500 m (terserang kelelawar dan bau kotorannya sangat menyengat). Penelusuran
gua ini harus malam hari, untuk menghindari kelelawar.
9. Gua Banteng
Gua Banteng terletak di Desa Sikayu,
sebelah selatan desa tempat Gua Simbar. Gua Banteng merupakan gua kering namun
lembab. Kerusakan gua ini sangat parah karena penambangan phospat dari jaman
Kolonial Belanda, namun sekarang sudah ditutup oleh Pemda.
Gua Banteng mempunyai panjang total lorong 1.300 meter. Medan di gua ini adalah
: lorong lebar, lorong sempit, vertikal, dan lumpur. Gua ini memiliki 4 buah
pintu masuk berbeda arah.
10. Gua Pucung
Gua Pucung ini masih berlokasi satu desa dengan Gua Banteng, gua ini mempunyai
lorong cukup lebar, penelusuran terhenti oleh lorong vertikal, diperkirakan
panjang gua ini sekitar 600 meter.
11. Gua Candi
Gua Candi ini cukup terkenal di daerah Kebumen, karena merupakan sumber utama
PDAM Kebumen Barat. Panjang gua ini sekitar 800an meter, namun untuk masuk gua
ini sangat terbatas, karena ditakutkan mengganggu saluran air minum.
12. Gua Watulesung
Gua Watulesung terletak di Desa Argosari, Kec. Ayah, Kab. Kebumen. Gua ini
berupa lorong air yang cukup panjang, gua ini mempunyai tiga buah pintu yang
saling berhubungan. Sedangkan panjang total gua ini sekitar 800 meter.
Tim meneliti dan memetakan gua ini karena lokasi desa gua ini cukup menantang,
medan yang menanjak dan desa yang terisolir, merupakan tantangan terbesarnya.
sumber http://archive.kaskus.co.id/thread/6568175/0/caving-eksplorasi-karst-gombong-selatan