Our social:

Latest Post

Rabu, 20 November 2013

Pembangunan PT Semen Gombong Tinggal Tunggu Amdal



TEMPO.CO, Jakarta - Rencana pembangunan pabrik PT Semen Gombong hanya tinggal menunggu keluarnya analisis dampak lingkungan. Kepala Badan Lingkungan Hidup Kebumen, Masagus Herunoto, menyatakan penyusunan amdal akan memperhatikan kawasan itu sebagai kawasan lindung dan penyerap air. 

Sejumlah LSM lingkungan hidup menentang penambangan batu gamping dari karst Gombong yang dikhawatirkan akan merusak lingkungan serta sumber air bagi masyarakat Kebumen dan sekitarnya.    

Dia akan memastikan bukit kapur yang akan ditambang berada di luar kawasan lindung. »Kami juga akan melihat apakah warga sekitar tambang mengizinkan apa tidak,” kata Masagus, Senin, 18 November 2013.

Site Manager PT Semen Gombong, Tineke Sunarni, mengatakan PT Semen Gombong akan mengikuti seluruh peraturan perundangan yang ada. "Kami optimistis Amdal bisa segera keluar dan kami bisa segera membangun pabrik," katanya.

Ia mengatakan, sebenarnya Amdal pembangunan pabrik sudah pernah keluar pada 1996. Hanya saja, karena ada krisis moneter, proyek itu dihentikan. Saat ini mereka harus membuat Amdal baru dengan peraturan baru.

Ia menyebutkan, bukit kapur yang akan ditambang hanya 3-5 persen dari total kawasan karst Gombong sebesar 4.894 hektare. Menurut dia, lokasi tambang PT Semen Gombong berada di kawasan timur karst Gombong. Tineke mengklaim lokasi tambang berbeda dengan gua karst berumur puluhan juta tahun yang menurut dia berada di sebelah barat.

PT Semen Gombong merupakan anak perusahaan Grup Medco milik pengusaha Arifin Panigoro. Total luas lahan yang akan ditambang ditambah pabrik mencapai 500 hektare di Kecamatan Buayan dan Rowokele.

ARIS ANDRIANTO

Masyarakat Karst Gombong Tolak Pabrik Semen


Selasa, 09 Juli 2013

Menyelamatkan Karst Gombong

Karst Karangbolong atau Karst Gombong Selatan memiliki fungsi sebagai penangkap, penyimpan dan penyuplai air bersih bagi masyarakat yang hidup di sekitarnya (Foto. A.B. Rodhial falah)

PRAJURIT tua tak pernah mati, mereka hanya memudar hilang”. Kalimat Jenderal Mac Arthur melintas di ingatan saat membaca laporan Otto Soemarwoto, Kajian Pro-Kontra Rencana Pembangunan Pabrik PT Semen Gombong (April 2003).

Sebuah perusahaan berencana membangun pabrik semen di Desa Nagaraji, Gombong Selatan, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah. Bahan baku semen berupa batu gamping terletak di kawasan gua karst Gombong Selatan. Kebanyakan penduduk daerah rendah pendapatannya. Pengusaha beranggapan pembangunan pabrik bermanfaat bagi daerah karena mengurangi kemiskinan dan menaikkan pendapatan asli daerah. Tetapi, pembangunan pabrik semen juga merusak gua karst Gombong, merusak habitat tempat bersarang burung walet dan kelelawar serta menghancurkan fungsinya sebagai “waduk alam” penyimpan air.

Muncul persoalan yang mempertentangkan “pembangunan semen” melawan “pelestarian gua karst Gombong”. Pengusaha telah mengantongi izin pemerintah (1996) tentang “Analisis mengenai Dampak Lingkungan” (amdal) sehingga syarat legal dipenuhi. Namun, banyak pihak menentang pembangunan pabrik semen yang dianggap bakal merusak lingkungan kawasan karst Gombong.

DALAM laporannya Bung Otto berpendirian soal pro-kontra pembangunan pabrik semen harus dilihat dari kaca mata “Pembangunan Berkelanjutan”. Sejak Presiden Soeharto menyepakati keputusan “Konferensi Tingkat Tinggi Bumi” di Rio, Brasil, 1992, Indonesia menganut kebijakan pembangunan berkelanjutan yang intrinsik masuk dalam pembangunan nasional rumusan Bappenas.

Bila “pembangunan konvensional” menempuh hanya satu jalur pembangunan ekonomi, “pembangunan berkelanjutan” merajut tiga unsur yang menyatu, yakni sustainabilitas ekonomi, sustainabilitas sosial, dan sustainabilitas ekologi-lingkungan. Agar usaha ekonomi berlanjut, perlu diperhitungkan dampaknya pada keberlanjutan kehidupan masyarakat sosial yang ditopang keberlanjutan fungsi ekologi-lingkungan sebagai sistem penunjang kehidupan makhluk alam.

Ekonomi tidak bisa berlanjut di tengah masyarakat yang menderita dampak negatif pembangunan berupa penggusuran penduduk, marginalisasi penduduk setempat karena tidak berpendidikan dan karena miskin tidak punya jaminan meminjam kredit perbankan. Pembangunan ekonomi serta sosial tidak bisa berlanjut bila sistem ekologi-lingkungan yang mendukung kehidupan alami amburadul, rusak, dan cemar.

Dalam mengkaji pro dan kontra pembangunan pabrik semen Gombong ini, Bung Otto memakai tolok ukur pembangunan berkelanjutan yang mencakup ketiga unsur ekonomi, sosial, dan ekologi-lingkungan. Unsur ekonomi mencakup ikhtiar memberantas kemiskinan, membuka lapangan kerja, mengembangkan eko-wisata. Unsur sosial memuat penanganan masalah gender dan masalah sosial akibat penutupan penambangan semen setelah bahan bakunya habis. Unsur ekologi-lingkungan meliputi konservasi karst Gombong Selatan, melestarikan volume dan kualitas air, menggunakan proses dan teknik produksi yang memperkecil pencemaran udara yang berdampak pada pemanasan global, dan mengembangkan produksi semen dengan cara-cara yang ramah lingkungan.

Unsur ekonomi, sosial, dan ekologi-lingkungan seyogianya terungkap melalui kajian amdal yang program penanggulangannya termaktub dalam “Rencana Kelola Lingkungan” (RKL) maupun “Rencana Pemantauan Lingkungan” (RPL). Kajian kritis terhadap hasil amdal yang disetujui Pemerintah tahun 1996 dan diuji di lapangan menunjukkan berbagai kelemahan prinsipiil. Yang paling serius adalah tak digunakannya pendekatan ekosistem yang mencakup ruang lingkup kawasan karst ini.

Dari sudut sustainabilitas ekonomi, kehadiran pabrik semen tidak otomatis mengurangi kemiskinan dan membuka lapangan kerja penduduk setempat karena rendahnya tingkat pendidikan rata-rata penduduk lokal sehingga mudah termarginalisasi oleh pendatang. Hal-hal ini tidak digubris RKL yang disusun.

Dari sudut sustainabilitas sosial, rendahnya indeks kesempatan perempuan masuk angkatan kerja dan menduduki jabatan kunci menunjukkan adanya diskriminasi perempuan di kabupaten Kebumen, sehingga dibutuhkan upaya khusus guna menanggapinya. Namun, hal ini tidak disinggung dalam RKL.

Dari sudut sustainabilitas ekologi-lingkungan tampak kelemahan pokok hasil amdal yang mengabaikan fungsi karst Gombong Selatan sebagai “waduk alam” yang amat penting karena mampu menyimpan air di Jawa Tengah selatan yang dikenal kering. Kawasan karst bagai busa yang menampung dan menyimpan air hujan untuk dialirkan dalam danau, air di bawah kawasan karst, dan sungai sepanjang tahun.

Akibat tekanan pertambahan penduduk pada dekade mendatang, Jawa akan menjadi “pulau kota” (tahun 2020). Dan air tawar menjadi bahan paling langka sehingga kemampuan alam melestarikan sumber air menjadi amat penting. “Sumbangan” Indonesia pada pencemaran udara global sudah amat besar. Jika di masa depan Indonesia masih tidak aktif mengendalikan emisi karbon dari kebakaran hutan dan pembakaran minyak bumi untuk energi, transportasi, dan industri, maka “sumbangan” Indonesia kian berarti bagi pencemaran udara.

Hal ini meninggikan suhu global sehingga menaikkan permukaan laut yang bakal menenggelamkan pulau-pulau kecil di Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Ia juga mengubah iklim kawasan Asia. Kenaikan suhu bumi juga memperbesar pengeringan air permukaan dan berpengaruh buruk pada pola pertanian kita yang masih banyak mengandalkan aliran air permukaan daratan. Semua ini menaikkan nilai air bawah tanah yang dihasilkan kawasan karst Gombong Selatan.

TEKNOLOGI produksi semen di Indonesia boros energi dan menimbulkan emisi CO2 yang menyumbang pada kenaikkan suhu global. Kini, para produsen semen berbagai negara, antara lain Jepang, sudah menerapkan pola produksi blended cement yang bisa menurunkan separuh emisi CO2. Tidak tampak dalam RKL rencana mengurangi emisi CO2. Khusus dalam menanggapi dampak “penutupan penambangan bahan baku semen” ketika bahan baku habis, tidak ada dalam RKL usaha memelihara keberlanjutan pembangunan kawasan ini.
Sehingga Bung Otto menyimpulkan, suatu pola pembangunan berkelanjutan yang secara sadar memuat unsur keberlanjutan ekonomi, sosial, dan ekologi-lingkungan tidak bisa menerima kehadiran pembangunan pabrik semen di Gombong Selatan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Pola pembangunan berkelanjutan yang didambakan perlu tertuang dalam rencana induk pengembangan kawasan karst Gombong.

Rencana ini perlu disusun sebagai hasil musyawarah yang melibatkan semua pemuka masyarakat Kebumen di tempat dan di perantauan dan kita semua yang sadar akan kekhasan fungsi karst serta ancaman kelangkaan air kelak. Rencana ini perlu difokuskan pada penyelamatan kawasan karst Gombong yang sekaligus menjadi sentra penggerak pembangunan kawasan dan mencakup lima bidang kegiatan.

Pertama, pengembangan pariwisata seperti wisata gua, wisata bahari, dan eko-wisata yang didasarkan prinsip “pembangunan oleh masyarakat”. Bentuk wisata berupa menelusuri gua, berjalan-kaki, berkuda, dan bersepeda. Penginapan berupa “inap dan sarapan”, home-stay mengutamakan rumah-rumah rakyat bertoilet bersih serta dihindarinya pengembangan hotel berbintang.

Kedua, agro-perhutanan, mengembangkan agro-ekosistem terpadu dengan struktur tajuk bertingkat yang mencakup tumbuhan, hewan ternak, dan ikan. Sistem dibangun atas dasar pencagaran terintegrasi bermuatan kearifan ekologi penduduk.

Ketiga, pengembangan laboratorium geologi mencakup ilmu speleologi, hidrologi, bio-speleologi, dan sebagainya untuk kawasan alam tropis dan bekerja sama dalam jaringan lembaga ilmu pengetahuan Karangsambung, Gunungkidul, Wonogiri, dan Pacitan.

Keempat, pelestarian dan pembudidayaan burung walet yang melibatkan masyarakat serta pakar burung walet sebagai stakeholders.

Kelima, pengembangan energi-terbarukan berupa mikroair, solar-matahari, angin, biomassa yang terdesentralisasi sehingga menunjang pembangunan di atas.

Dengan lima pokok Rencana Induk ini, dari kawasan karst Gombong dapat ditembakkan “peluru” contoh pola pembangunan berkelanjutan yang tidak lagi mempertentangkan pembangunan ekonomi dengan lingkungan tetapi menyatu dan terpusat meningkatkan kesejahteraan rakyat kecil. Prajurit tua memang tak pernah mati. Mereka hanya melepaskan tembakan jika perlu. 

(reposting atas seijin admin https://www.facebook.com/groups/138821779543097)

Rabu, 03 Oktober 2012

Kawasan karst Gombong selatan


Tuesday, 2 October 2012

Kawasan karst Gombong selatan terletak di kabupaten kebumen, jawa tengah termasuk dalam rangkaian Pegunungan Serayu Selatan dengan kondisi geologi menarik. Pada kawasan ini didapatkan potensi sumberdaya mineral berupa batugamping, kalsit, andesit, fosfat, mangan, tras, bentonit serta cebakan emas. Keterdapatan potensi sumber daya mineral menjadikan kawasan ini menarik banyak pihak untuk melakukan eksploitasi. 

Potensi batugamping, mangaan dan fosfat banyak diburu inverstor. Berdasarkan Kepmen ESDM No. 961.K/40/MEM/2003 kawasan ini telah ditetapkan sebagai Kawasan Lindung karena mempunyai fenomena alam yang unik dan langka serta mempunyai nilai penting bagi kehidupan dan ekosistim. Pada kawasan ini telah dibuat tata ruang kawasan yang mencakup 3 zone berupa kawasan karst Kelas I, II dan III. Karst kelas I mencakup sekitar 75 persen luas kawasan yang harus terbebas dari aktifitas penambangan dan budidaya. 

Aktivitas penambangan andesit, batugamping, kalsit, fosfat serta sebagian besar sebaran potensi sumberdaya mineral berada pada kawasan karst kelas I. Untuk itulah perlu dilakukan kajian pengelolaan sehingga fungsi kawasan lindung dapat berjalan. 

Kawasan karst Gombong Selatan semakin rusak akibat beban yang berat terutama dari penambangan oleh masyarakat di sekitarnya sebagai satu-satunya mata pencaharian yang berisiko tinggi dan merusak ekosistem karst sebagai sumber mata air, keanekaragaman hayati, laboratorium alam ilmu pengetahuan dan lain-lain. Di samping itu pembakaran kapur hasil penambangan juga dapat menimbulkan asap tebal yang mengganggu kesehatan lingkungan menyebabkan sesak napas, penyakit inspeksi saluran penapasan atas (ISPA), mata pedih, penyakit paru-paru, stres dan lain-lain.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, perlu pelestarian fungsi lingkungan kawasan karst, adanya pembekalan mengenai renovasi kawasan karst, pemberdayaan dan pengkaderan lingkungan bagi masyarakat penambang yang bertempat tinggal di sekitar kawasan karst Gombong Selatan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menumbuhkan kesadaran, pemahaman, mencari alternatif alih profesi serta membangun kemandirian dan inisiatif masyarakat sekitar akan arti pentingnya kawasan karst bagi aspek lingkungan dan kehidupan. 

sumber http://jurnal-sejarah.blogspot.com/2012/10/kawasan-karst-gombong-selatan.html

Selasa, 22 Mei 2012

Tambang Liar Ancam Kawasan Karst Gombong Selatan

Senin, 21 Mei 2012 | 18:50 WIB 


KEBUMEN, KOMPAS.com — Penambangan batu kapur secara liar di Kawasan Karst Gombong Selatan, Kebumen, Jawa Tengah, semakin mengancam ekosistem yang telah ditetapkan sebagai kawasan lindung tersebut. Selain itu, penambangan secara masif menyebabkan habitat makhluk hidup lain di sekitar gunung kapur terganggu.

Kepala Kantor Lingkungan Hidup Kebumen Masagus Herunoto mengatakan, secara sporadis penambangan liar yang terjadi selama puluhan tahun telah nyata merusak kelestarian ekosistem Kawasan Karst Gombong Selatan (KKGS), yang pada 2004 ditetapkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai kawasan eko-karst.

"Kami punya tanggung jawab menjaga karst. Tapi, persoalan di lapangan tak semudah yang dibayangkan. Aktivitas tambang kapur masih menjadi pekerjaan utama sebagian besar warga sekitar lokasi penambangan," tutur Masagus, Senin (21/5/2012), di Kebumen.

Data Dinas Sumber Daya Air Energi dan Sumber Daya Mineral Kebumen mencatat, setidaknya terdapat 130 usaha tambang batu kapur di tiga kecamatan yang masuk KKGS. Lokasi penambangan tersebar di Kecamatan Ayah sebanyak 37 usaha, Kecamatan Buayan 54 usaha, dan Kecamatan  Rowokele 39 usaha. Penambangan berskala besar terdapat di Desa Jatijajar, Desa Redisari, Desa Kalisari, dan Desa Banyumudal, yang umumnya digunakan untuk kapur tohor.

Hampir semua usaha penambangan batu kapur rakyat tersebut tidak mengantongi izin. Berdasarkan pantauan Kompas, kegiatan penambangan rakyat secara turun-temurun meninggalkan luka di perbukitan karst. Selain menggunakan kapak dan linggis, tak jarang sebagian upaya penambangan menggunakan bahan peledak.


Penulis: Gregorius Magnus Finesso
Editor : Nasru Alam Aziz






http://regional.kompas.com/read/2012/05/21/18504585/Tambang.Liar.Ancam.Kawasan.Karst.Gombong.Selatan

Jumat, 01 Juli 2011

Dominasi Modal Asing


Jumat, 1 Juli 2011 | 1:50 WIB


Sejumlah media arus utama telah mengangkat soal dominasi modal asing dalam perekonomian Indonesia. Sepanjang yang kami ketahui, apa yang disampaikan oleh media arus utama itu bukanlah hal yang baru, tetapi sudah seringkali disuarakan oleh kelompok-kelompok kritis dan kalangan oposisi.

Dominasi modal asing sebetulnya bukan cuma mengkhawatirkan, tetapi sekaligus telah membawa perekonomian nasional dalam ‘situasi genting’. 

Sebab, mengutip perkataan Bung Karno 81 tahun yang lalu, bahwa ‘raksasa biasa yang dulu berjengkelitan di atas pada kerezekian Indonesia, kini sudah menjadi raksasa Rahwana-Dasamuka yang bermulut sepuluh’.

Dominasi modal asing itu dapat dilihat pada tiga lapangan:  
pertama, menguasai perbankan nasional; 
kedua, mendominasi investasi di Indonesia; 
ketiga, menguasai bursa saham di Indonesia. Dengan menguasai tiga lapangan ekonomi yang sangat penting itu, maka modal asing sebetulnya sudah ‘mencekik’ leher perekonomian nasional.

Perdebatan soal perlu dan tidaknya modal asing hampir bersamaan dengan pembicaraan soal lahirnya nation baru bernama Indonesia. Bung Karno sudah mengulas soal modal asing itu dalam tulisan-tulisannya sejak tahun 1930-an. Sejak awal, di kalangan republik sendiri, ada pihak-pihak yang menganggap modal asing sangat penting untuk mendorong ekonomi nasional Indonesia.

Karena modal nasional atau milik bangsa Indonesia masih sedikit, maka modal asing diperbolehkan untuk membangun kepentingannya di Indonesia.
Mohammad Hatta, Wakil Presiden Indonesia yang pertama, pernah berkata: 

“Soal kapital menjadi halangan besar untuk memajukan industrialisasi di Indonesia. Rakyat sendiri tidak mempunyai kapital. Kalau industrialisasi mau berarti sebagai jalan untuk memakmurkan rakyat, perkataan-perkataan kemakmuran rakyat (cetak tebal, red) mestilah kapitalnya datang dari pihak rakyat atau pemerintah. Karena, kalau kapital harus didatangkan dari luar, tampuk produksi terpegang oleh orang luaran.

Dan, dengan jalan itu, kata Mohammad Hatta, industrialisasi tidak akan berjalan di Indonesia, karena modal asing hanya membangun pabrik menurut kepentingannya sendiri atau membangun pabrik pada sektor-sektor yang menjanjikan keuntungan berlebih.

Dan, memang betul apa yang dikatakan Hatta, sudah 60 tahun lebih modal asing mengambil peranan dalam perekonomian sejak Indonesia merdeka, industri yang terbangun masih sangat sedikit.

Sebaliknya, jika kita teliti lagi dengan baik, keberadaan modal asing itu justru membawa tiga malapetaka: merampok semua kekayaan alam bangsa kita, mengangkut keuntungan besar sekali dari bumi kita, dan menciptakan kemiskinan dan ancaman kerusakan lingkungan yang sangat parah.

Akibat dari penguasaan asing itu, sebagaimana diakui oleh Burhanuddin Abdullah, mantan Gubernur Bank Indonesia, ‘rakyat Indonesia hanya menikmati 10% dari keuntungan ekonomi, sedangkan 90%nya dibawa asing keluar.’

Kita boleh percaya atau tidak dengan apa yang dikatakan oleh Burhanuddin Abdullah. Tetapi, apa yang tak terbantahkan, bahwa kita bangsa yang punya kekayaan alam yang melimpah dan sumber daya manusia yang besar, tetapi kenyataannya sebagian besar rakyat kita hidup sengsara.

Selain itu, supaya modal asing itu bisa berkembang dan mencapai tujuan-tujuannya, maka mereka pun mengajukan syarat-syarat: jaminan keamanan, penyediaan tenaga kerja berupah rendah, stabilitas ekonomi, kemudahan transfer modal dan keuntungan, dan keringanan pajak.

Dengan keberadaan syarat-syarat itu, maka modal asing bebas menggali keuntungan sebesar-besarnya di bumi Indonesia, sedangkan kehidupan rakyat dan ekonomi nasional menjadi tergerus karenanya. Beberapa dampak yang terlihat, antara lain:  
Pertama, perampokan kekayaan alam dan cabang-cabang produksi yang penting menyebabkan—meminjam istilah Bung Karno—‘pengeringan terhadap rakyat Indonesia’.  
Kedua, karena modal asing memerlukan tanah, pembangunan infrastruktur pendukung, dan jaminan keamanan, maka sering terjadi perampasan tanah, penggusuran, dan represi atau penindasan terhadap rakyat.

Sumber Artikel: BerdikariOnline 

Jumat, 25 Februari 2011

Gua-Gua Kawasan Karst Gombong Selatan


1. Gua Jatijajar

Dibentuk alam selama ribuan tahun, muncullah sebuah karya nan indah yang menawarkan nuansa lain. Tempat berpetualang di perut bumi, namun santai dan menyenangkan yang terletak 21 kilometer ke arah selatan Gombong, atau 42 kilometer arah barat Kebumen.

Gua Jatijajar berada di kaki pegunungan kapur. Objek wisata ini sungguh sangat menarik. Pegunungan kapur ini memanjang dari utara dan ujungnya di selatan menjorok ke laut berupa sebuah tanjung.

Sebagaimana umumnya objek wisata lain di Indonesia, yang hampir selalu menyimpan legenda, Gua Jatijajarpun tak terkecuali. Kata yang punya cerita, Gua Jatjajar ini pada zaman dahulu merupakan tempat bersemedi Raden Kamandaka, yang kemudian mendapat wangsit. Cerita Raden Kamandaka ini kemudian dikenal dengan legenda Lutung Kasarung. Visualisasi dari legenda tersebut dapat kita lihat dalam diorama yang ada di dalam goa itu.

Masuk ke dalam gua ini, bagaimanapun ada rasa degdegan. Betapa tidak! Karena merasa seperti masuk ke dalam mulut binatang purba Dinosaurus. Tambah ngeri lagi jika membayangkan gelapnya suasana di dalam perut dinosaurus tersebut. Namun rasa cemas itu segera sirna, sebab ruangan diterangi oleh lampu listrik dari ujung ke ujung. Meski mulut gua cukup lebar, namun ruang perut dinosaurus lebih lebar lagi. Pada langit-langit terdapat sebuah lubang sebagai ventilasi. Di tengah-tengah terdapat kursi melingkar tempat duduk pengunjung sambil menikmati indahnya ornamen stalagtit dan stalagnit serta diorama legenda Lutung Kasarung.

Setelah puas menyaksikan sajian ini, perjalanan dilanjutkan dengan menuruni tangga menuju ruang yang merupakan bagian ekor dari dinosaurus tersebut. Di dalam ruang ini, Anda dapat melihat sumber mata air yang disebut Sendang. Jumlah sendang tersebut ada 4 buah, yaitu Sendang Mawar, Kantil, Jombor dan Puserbumi. Sendang Mawar dipercayai mempunyai kekuatan gaib yang bisa membuat seseorang tetap awet muda, karenanya setiap pengunjung selalu menyempatkan diri untuk membasuh muka dengan air Sendang Mawar tersebut.

Dipenuhi oleh rasa kagum dan terpesona, tanpa terasa Anda telah menempuh jarak 250 meter menyusuri perut dinosaurus. Fantastis bukan? Dan itulah kenyataannya. Bukan itu saja, bahkan tanpa Anda sadari, Anda telah masuk ke perut bumi sedalam 40 meter. Benar-benar suatu petualangan yang santai yang hanya bisa dicicipi di Taman Wisata Gua Jatijajar.

Terletak 21 Km sebelah barat daya Kecamatan Gombong, atau 42 Km sebelah barat daya kota Kebumen. Legenda di dalam goa menggambarkan legenda Raden Kamandaka atau legenda Lutung Kasarung. Panjang goa adalah 250 meter. Di area Goa Jatijajar ini juga terdapat beberapa goa lainnya, seperti Goa Intan dan Goa Dempok serta tersedia taman dan Pulau Kera. Untuk menuju ke obyek wisata ini telah tersedia sarana dan prasara transportasi, penginapan serta rumah makan yang relatif representatif. Patung Dinosaurus yang seolah memuntahkan air dalam lokasi wisata ini sebenarnya merupakan muara dari mata air dari dalam Goa Jatijajar yang tiada pernah berhenti walau musim kemarau sekalipun.

Obyek wisata Goa Jatijajar dilengkapi taman yang asri yang dilengkapi dengan taman bermain. Taman ini diberi nama Pulau Kera, karena di taman ini terdapat banyak patung kera. Di gerbang mulut Goa Jatijajar, terdapat lobang di antara stalagnit, sehingga bila cahaya matahari masuk terlihat sangat indah. Goa Jatijajar merupakan bukti dari legenda Kamandaka (Lutung Kasarung), di mana kisah ini secara tersirat dikisahkan melalui patung-patung yang ada di dalam Goa Jatijajar. Di dalam Goa Jatijajar terdapat sebuah mata air (sendang) yang konon kabarnya akan membuat awet muda bagi yang mencuci muka di sana.

Di samping Goa Jatijajar, masih terdapat goa yang lain seperti Goa Dempok ini. Stalagtit yang terdapat di dalam Goa Dempok terbentuk secara alami selama ratusan atau bahkan ribuan tahun yang lalu. Hingga kini masih terjaga keasliannya. Goa Intan berada satu lokasi dengan obyek wisata Goa Jatijajar. Goa ini memiliki keunikan tersendiri dengan langit goa yang relatif tidak terlalu tinggi
. [1]

2. Goa Petruk

Terletak 7 Km selatan Goa Jatijajar. Petruk diturunkan dari nama pengikut setia Pandawa dalam cerita pewayangan. Goa ini sangat mempesona. Tetesan air kapur terdengar bagaikan kebisingan yang tiada henti. Banyak stalaktit yang menyerupai bentuk kehidupan di dunia, seperti halnya stalaktit seperti anjing duduk ini. Stalaktit ini sangat memukau pengunjung karena menyerupai tokoh Semar dalam cerita pewayangan. Gorden raksasa akan mengingatkan betapa Maha Kuasanya Tuhan YME dan segala ciptaannya di bumi dan di langit.

Boneka-boneka mungil terdapat di dalam Goa Petruk di antara aliran air dalam gua yang sejuk. Stalaktit ini sangat mirip dengan payudara yang tidak terdapat di tempat lain. Tangan anda dapat menyentuhnya karena dinding goa yang tidak terlalu tinggi.
ornamen yg ada di gua petruk sangat bervariasi dan sangat lengkap, bahkan gua ini pernah dijadikan gua terbaik dan tercantik se indonesia,beberapa tahun yg lalu, bahkan salah satu ornamennya pernah diabadikan oleh pos indonesia, sebagai background salah satu perangko.

3. Gua Barat


Gua barat terletak tidak jauh dari gua petruk dan gua jatijajar, berada di kecamatan Ayah,kab.kebumen. gua barat menurut para menelusur adalah rajanya gua di kawasan karst gombong selatan, dimana beratnya medan yg dilalui dan panjang lorongnya. menurut peneliti dr perancis, panjang total gua ini lebih dari 4.000 meter.
begitu masuk gua ini akan berhadapan dengan lorong berair sedalam 0,5 m, semakin ke dalam lorong akan melebar (k-k 5-10 m), medan akan seperti sungai sedalam 1-4 m. sepanjang perjalanan, akan dijumpai pemandangan yg menakjubkan mata, ornamen yg sangat memukau, perjalanan 800an meter, medan akan dilanjutkan dengan air terjun, apabila akan melanjutkan perjalanan maka harus memanjat tebing air terjun setinggi 10 meter, selanjutnya (mnrt org perancis), medan akan seperti sungai kecil, sepanjang total lbh dari 3.000 meter. gua ini rawan banjir.

satu hal yg harus dicacat :
sebelum masuk wajib lapor base camp, bawa perlengkapan standar caving ditambah pelampung dan alat RC/SRT. penelusuran sampai air terjun pertama biasanya harus menginap di dalam jd bawa cadangan makanan dan batu baterey yg cukup.

4. Gua Macan

Gua Macan terletak di desa Candirenggo, Kec.Ayah, Kab. Kebumen. Terletak satu desa dengan Gua Petruk, Gua Macan keunggulannya atau daya tariknya adalah mempunyai medan vertikal ke bawah sedalam 40 meter, total panjang lorong ini sekitar 1 km.

Pintu masuk gua ini sangat kecil dan akan melebar kearah dalam, perjalanan 300 m akan ditemui sumuran yg sangat lebar (diameter 100 m), jika ingin melanjutkan perjalanan harus turun menggunakan set SRT. sampai di bawah lorong akan bercabang, mengikuti air atau menaiki aliran air.
Penelurusan yg menuruni aliran air, akan tembus ke luar gua, namun jika menaiki aliran air, akan buntu, karena ada lorong yg tertutup air.

Jadi apabila akan memasuki gua ini wajib mahir dalam SRT dan rescue. sepanjang lorong gua ini berair, seperti sungai kecil. gua macan merupakan gua andalan di kawasan ini.

5. Gua Jemblongan.

Gua ini merupakan sambungan Gua Petruk, namun dari arah yg berbeda. Gua Jemblongan mempunyai mulut yg besat dan medan berupa aliran air. panjang gua ini sekitar 700 m.

6. Gua Darat

Gua ini berada di Desa Rogodadi, Kecamatan Buayan, Kebumen. Gua ini berupa lorong yg kering, gua ini hanya mempunyai panjang sekitar 150 meter.

Gua Darat sekarang sudah dijadikan tempat wisata lokal, karena ornamen-ornamennya yg cukup bagus. Daya tarik yang lebih bagus adalah pemandangan sekitar gua, karena berada di puncakan sebuah pegunungan.

7. Gua Simbar

Gua ini berada tepat dibawah Gua Darat. Gua Simbar sampai saat ini belum ada yg mengetahui berapa panjang total sebenarnya.
Penelusuran dan pemetaan yang dilakukan, baru sekitar 700 m, terhenti karena medan yang berupa lorong berair dalam.

Selain itu gua ini mempunyai percabangan yg sangat banyak dan rumit (simpang susun). Gua ini termasuk gua berair dan masih sangat aktif. Ornamen di gua ini sangat memukau, karena masih sedikit penelusur yg bisa memasukinya (hanya golongan penggiat alam bebas) saja, karena memerlukan keterampilan dan peralatan khusus.

8. Gua Kali

Gua Kali berada di bawah Gua Simbar, sesuai namanya dari mulut gua sampai ujung medan berupa aliran sungai sedalam 0,5-1 meter.
Gua ini merupakan sarang kelelawar yg sangat besar, menurut warga gua ini panjangnya sekitar 700an meter.
Karena pada telusur sepanjang 500 m (terserang kelelawar dan bau kotorannya sangat menyengat). Penelusuran gua ini harus malam hari, untuk menghindari kelelawar.

9. Gua Banteng

Gua Banteng terletak di Desa Sikayu, sebelah selatan desa tempat Gua Simbar. Gua Banteng merupakan gua kering namun lembab. Kerusakan gua ini sangat parah karena penambangan phospat dari jaman Kolonial Belanda, namun sekarang sudah ditutup oleh Pemda.

Gua Banteng mempunyai panjang total lorong 1.300 meter. Medan di gua ini adalah : lorong lebar, lorong sempit, vertikal, dan lumpur. Gua ini memiliki 4 buah pintu masuk berbeda arah.

10. Gua Pucung

Gua Pucung ini masih berlokasi satu desa dengan Gua Banteng, gua ini mempunyai lorong cukup lebar, penelusuran terhenti oleh lorong vertikal, diperkirakan panjang gua ini sekitar 600 meter.

11. Gua Candi

Gua Candi ini cukup terkenal di daerah Kebumen, karena merupakan sumber utama PDAM Kebumen Barat. Panjang gua ini sekitar 800an meter, namun untuk masuk gua ini sangat terbatas, karena ditakutkan mengganggu saluran air minum.

12. Gua Watulesung

Gua Watulesung terletak di Desa Argosari, Kec. Ayah, Kab. Kebumen. Gua ini berupa lorong air yang cukup panjang, gua ini mempunyai tiga buah pintu yang saling berhubungan. Sedangkan panjang total gua ini sekitar 800 meter.

Tim meneliti dan memetakan gua ini karena lokasi desa gua ini cukup menantang, medan yang menanjak dan desa yang terisolir, merupakan tantangan terbesarnya. 


sumber http://archive.kaskus.co.id/thread/6568175/0/caving-eksplorasi-karst-gombong-selatan